Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia sering kali sibuk menilai kehidupan orang lain. Apa yang terlihat oleh mata, pakaian yang dikenakan, kendaraan yang dipakai, rumah yang ditempati, hingga cara seseorang berbicara, kerap menjadi dasar untuk membentuk kesimpulan. Tanpa disadari, kita membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Akibatnya, muncul perasaan minder, tidak percaya diri, bahkan merasa hidup kita jauh tertinggal.
Ungkapan “rumput tetangga selalu tampak lebih hijau” seakan menjadi gambaran nyata tentang cara pandang manusia. Padahal, apa yang terlihat indah di permukaan belum tentu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui perjuangan, luka, atau beban yang disembunyikan seseorang di balik senyum dan penampilannya. Ada orang yang memang berhasil melalui kerja keras dan pengorbanan, tetapi ada pula yang hanya menampilkan citra seolah hidupnya sempurna.
Di era digital dan media sosial saat ini, fenomena tersebut semakin nyata. Banyak orang berlomba menampilkan kesuksesan, liburan mewah, rumah megah, barang bermerek, hingga pencapaian karier yang membanggakan. Tidak sedikit orang yang melihatnya merasa iri, lalu membandingkan kehidupannya sendiri. Padahal, apa yang tampil di media sosial sering kali hanyalah bagian terbaik yang sengaja diperlihatkan kepada publik. Ada yang sekadar membangun citra demi pengakuan, ada pula yang memang sedang bekerja sama dengan produk atau iklan tertentu. Jika tidak bijak menyikapinya, kita mudah terjebak dalam rasa kurang dan lupa mensyukuri nikmat yang telah Allah SWT berikan.
Dalam Islam, ukuran kesuksesan tidak hanya diukur dari materi, jabatan, atau popularitas. Allah SWT telah menetapkan rezeki setiap manusia sesuai kadar dan kebutuhannya. Hal ini dijelaskan dalam QS. Az-Zukhruf ayat 32:
“Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
Ayat tersebut mengingatkan bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur kehidupan. Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya, kapan waktu yang tepat, dan dalam kadar yang sesuai. Karena itu, tugas manusia bukan sibuk membandingkan diri dengan orang lain, melainkan berusaha menjalani hidup dengan ikhtiar terbaik dan hati yang penuh syukur.
Kesuksesan sejati terletak pada kemampuan seseorang mensyukuri nikmat Allah, menjalani hidup dengan manfaat, serta istiqamah dalam kebaikan. Harta memang dapat memberi kenyamanan, tetapi tidak selalu menghadirkan ketenangan. Tidak sedikit orang yang hidup berkecukupan justru merasa gelisah, sementara ada orang sederhana yang hidupnya penuh kebahagiaan karena hatinya dekat dengan Allah.
Salah satu cara agar tidak mudah iri terhadap kehidupan orang lain adalah memperbanyak rasa syukur. Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
Syukur bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi juga diwujudkan melalui sikap hidup. Orang yang bersyukur akan lebih mudah merasa cukup, lebih tenang menjalani hidup, dan tidak mudah terpengaruh oleh gemerlap kehidupan orang lain. Syukur membuat seseorang mampu melihat nikmat yang dimilikinya, bukan terus-menerus memikirkan apa yang belum dimiliki.
Rasa syukur dapat dilatih melalui hal-hal sederhana, seperti mengingat nikmat kecil setiap hari, menyadari sejauh mana perjuangan hidup yang telah dilalui, dan melihat kondisi orang-orang yang lebih sulit. Dengan begitu, kita akan memahami bahwa kehidupan ini sebenarnya telah dipenuhi banyak karunia dari Allah SWT.
Selain bersyukur, penting pula untuk mengenali dan mengembangkan potensi diri. Setiap manusia memiliki kelebihan yang berbeda-beda. Ada yang pandai berbicara, terampil menulis, mampu mengajar dengan baik, atau memiliki empati yang tinggi kepada sesama. Jika seseorang terus membandingkan dirinya dengan standar kesuksesan orang lain, ia tidak akan pernah merasa puas. Namun ketika ia fokus mengembangkan potensi yang dimiliki, ia akan menemukan jalan suksesnya sendiri.
Sukses tidak harus selalu berbentuk kekayaan atau popularitas. Ada orang yang sukses membangun perusahaan besar, ada pula yang sukses mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang saleh dan berakhlak mulia. Keduanya memiliki nilai keberhasilan masing-masing di hadapan Allah SWT.
Pada akhirnya, cara kita memandang kesuksesan orang lain sangat menentukan ketenangan hati. Jika hidup dipenuhi iri dan perbandingan, maka yang lahir hanyalah rasa tidak puas. Sebaliknya, jika kita memilih bersyukur dan berpikir positif, hidup akan terasa lebih ringan dan penuh makna.
Kesuksesan orang lain seharusnya menjadi inspirasi, bukan alasan untuk merasa rendah diri. Dari mereka, kita bisa belajar tentang kerja keras, kesabaran, dan ketekunan. Namun kita juga perlu menyadari bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda dan tidak dapat disamakan.
Mari tanamkan dalam diri bahwa “rumput tetangga belum tentu lebih hijau.” Bisa jadi, rumput di halaman kita justru lebih hijau jika dirawat dengan rasa syukur, kerja keras, kesabaran, dan doa. Dengan demikian, kita dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, optimis, dan bahagia.
Penulis: Lilis Umi F., S.Pd., M.A (Guru MAN 1 Yogyakarta)