Di tengah derasnya arus informasi, media sosial telah menjelma menjadi panggung terbuka tempat siapa pun bisa tampil dan memengaruhi. Setiap unggahan, komentar, dan siaran langsung tidak lagi berhenti sebagai ekspresi personal, melainkan berpotensi membentuk opini dan perilaku publik. Namun, alih-alih menghadirkan keteladanan, sebagian tokoh negeri, figur publik dan masyarakat luas justru mempertontonkan kejumawaan. Sindiran, hinaan, dan kata-kata kasar diproduksi dan disebarluaskan tanpa rasa tanggung jawab, seakan etika dan adab tak lagi memiliki tempat dalam ruang digital.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran nilai. Ukuran keberhasilan bukan lagi kedalaman pesan atau manfaat yang ditinggalkan, melainkan seberapa ramai respons yang diperoleh. Semakin kontroversial, semakin viral. Padahal, dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak diukur dari seberapa besar sorotan yang ia terima, melainkan dari akhlak yang ia jaga, baik ketika disaksikan banyak orang maupun saat tak ada satu pun yang melihat.
Mereka yang suka gemerlapnya media sosial lupa bahwa apa yang ditonton hari ini akan ditiru esok hari. Media sosial tidak hanya dikonsumsi oleh mereka yang matang secara intelektual, tetapi juga oleh generasi muda yang masih membentuk nilai dan karakter. Apa yang berulang kali mereka lihat perlahan menjadi hal yang dianggap wajar. Ketika caci maki menjadi tontonan harian, ketika ejekan dianggap lucu, dan ketika kemarahan dipertontonkan tanpa kendali, di sanalah degradasi akhlak mulai tumbuh tanpa disadari.
Lebih menyedihkan lagi, demi popularitas dan keuntungan materi, sebagian pegiat media sosial menghalalkan segala cara. Konten diproduksi bukan untuk mencerahkan, tetapi untuk memancing emosi, amarah, kebencian, dan permusuhan. Padahal, Islam mengajarkan bahwa lisan dan tulisan adalah amanah. Setiap kata yang keluar dari diri seorang muslim tidak pernah benar-benar hilang. Allah SWT berfirman:“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
(QS. Qaf: 18). Ayat ini seharusnya cukup untuk membuat setiap muslim berhenti sejenak sebelum berbicara, apalagi sebelum menyebarkannya kepada jutaan pasang mata. Sebab, yang viral hari ini bisa menjadi saksi di hadapan Allah kelak.
Dalam Islam, posisi manusia adalah pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri. Rasulullah SAW menegaskan bahwa amanah kepemimpinan melekat pada setiap peran, sekecil apa pun. Kesadaran inilah yang seharusnya membimbing perilaku, terutama bagi mereka yang memiliki pengaruh luas di ruang publik. Semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang dipikulnya.
Islam tidak kekurangan figur teladan. Nabi Muhammad SAW hadir sebagai contoh kepemimpinan akhlak yang utuh, lembut dalam tutur kata, tegas dalam prinsip, dan penuh kasih dalam pergaulan. Beliau tidak pernah menjadikan celaan sebagai hiburan, tidak pula menjadikan amarah sebagai tontonan. Bahkan Allah SWT menegaskan bahwa kehadiran beliau adalah rahmat bagi seluruh alam. Keteladanan Rasulullah SAW bukan hanya untuk dikenang dalam sejarah, tetapi untuk dihidupkan dalam setiap zaman, termasuk di era digital saat ini. Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an yang hidup karena apa yang beliau ucapkan, lakukan, dan sikapi merupakan praktik nyata dari ajaran Al-Qur’an.
Jika setiap perbuatan kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, maka ruang digital pun sejatinya adalah ladang amal atau sebaliknya, ladang dosa. Apa yang kita unggah bukan sekadar jejak digital, melainkan jejak moral. Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar apa yang kita unggah, melainkan nilai apa yang sedang kita wariskan. Di tengah kebisingan dunia maya, sudahkah kita menjadi teladan, atau justru menjadi bagian dari hilangnya keteladanan itu sendiri?