Bantul (MAN 1 Yogya) – Bertempat di Iroyudan, Guwosari, Pajangan, Bantul, kediaman Kepala MAN 1 Yogyakarta, H. Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., keluarga besar MAN 1 Yogyakarta menggelar pengajian rutin pada Ahad (7/2/2026).
Acara dibuka dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Abdurrahman Ramadhan, salah satu putra terbaik MAN 1 Yogyakarta.
Sebagai shohibul hajjat, Kepala MAN 1 Yogyakarta dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh hadirin.
“Sugeng rawuh, ahlan wa sahlan. Terima kasih atas kehadiran dan keistikamahan keluarga besar MAN 1 Yogyakarta dalam tholabul ilmi. Apa pun yang Allah ciptakan tidak ada yang sia-sia, semuanya mengandung hikmah. Mari kita senantiasa optimis dan berprasangka baik agar terhindar dari sifat sombong,” tuturnya.
.jpeg)
Pengajian siang itu menghadirkan Ustadz H. Apt. Amirul Mustofa, M.MR., yang sehari-hari bertugas di Kantor BPJS Kesehatan Kabupaten Bantul, sebagai narasumber. Dalam tausiahnya, Amirul mengangkat tema “Egois dalam Berinteraksi: Tidak Selamanya yang Aku Anggap Baik adalah Kebenaran Satu-satunya.”
Dengan gaya penyampaian santai namun sarat makna, Amirul mengupas tema tersebut satu per satu. Ia menekankan pentingnya menghadiri majelis ilmu karena hal itu akan memudahkan jalan menuju surga. Menurutnya, umat Islam tidak boleh mudah patah semangat dan hendaknya senantiasa menjaga rasa senang dan bahagia dalam menjalani kehidupan.

Lebih lanjut, Amirul mengajak jamaah untuk belajar menekan ego, mengendalikan sifat angkuh, serta melembutkan hati agar hidup senantiasa mendapat rida Allah Swt. Ia juga membagikan beberapa kiat dalam mengelola hati, di antaranya:
1. Memandang hidup sebagai nikmat dari Allah Swt.
2. Meyakini bahwa setiap aktivitas yang dijalani mengandung nilai pahala jika diniatkan karena Allah Swt.
3. Selalu ringan kaki dan tangan (enthengan) dalam berbuat kebaikan, karena kebaikan akan memudahkan segala urusan.
Selain itu, Amirul Mustofa juga menjelaskan lima unsur yang ada dalam diri manusia, yaitu:
1. Jasad, dengan puncaknya berupa rasa cukup.
2. Akal, yang puncaknya terletak pada keluasan cara berpikir.
3. Hati, yang harus senantiasa dijaga kebersihannya dari prasangka buruk, karena sekecil apa pun kebaikan, bernilai besar di sisi Allah.
4. Nafsu, yang hanya dapat dikendalikan oleh diri sendiri melalui manajemen yang baik.
5. Ruh, yang harus selalu diajak untuk taqarub kepada Allah Swt.
Menutup tausiah, Amirul Mustofa menyampaikan pesan
“Tidak ada yang layak diberikan kepada seseorang, kecuali memang dia layak menerimanya.” (wk)