Bencana sebagai Teguran, Bukan Akhir Sebuah Harapan

06 Feb 2026, 16:28 Hilman Abdullah, S.Hum 22

Akhir-akhir ini, negeri kita kembali diuji. Air meluap melebihi batas kemampuan bumi untuk menampungnya, tanah bergeser dari tempatnya, dan rumah-rumah yang dahulu menjadi ruang perlindungan berubah menjadi kuburan yang memilukan. Bencana datang tanpa memilih, mengetuk setiap pintu tanpa permisi dengan cara yang tak pernah kita sangka. dibalik peristiwa itu, ada duka yang mendalam, ada harap yang tertahan, dan ada manusia yang mulai belajar tentang rapuhnya kehidupan.

Namun bagi hati yang beriman, musibah bukan sekadar kesedihan. Ia adalah cermin, tempat manusia melihat betapa kecil dirinya dan betapa besar kuasa Allah. Allah berfirman dalam al-Quran berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ۝٤١

Artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali. (QS. Ar-Rum: 41).

Ayat ini tidak sedang menuduh, melainkan mengajak merenung. Bahwa apa pun yang terjadi di bumi ini tidak pernah lepas dari kehendak Allah dan tanggung jawab manusia atas perbuatan yang telah ia kerjakan. Dalam Tafsir Ath-Thabari, makna ayat ini dijelaskan dengan sangat jernih dan mendalam

(بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ)

 أَيْ: بِذُنُوبِ النَّاسِ، وَانْتَشَرَ الظُّلْمُ فِيهِمَا. وَقَوْلُهُ: ﴿لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا﴾ يَقُولُ جَلَّ ثَنَاؤُهُ: لِيُصِيبَهُمْ بِعُقُوبَةِ بَعْضِ أَعْمَالِهِمُ الَّتِي عَمِلُوا، وَمَعْصِيَتِهِمُ الَّتِي عَصَوْا. ﴿لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾ يَقُولُ: كَيْ يُنِيبُوا إِلَى الْحَقِّ، وَيَرْجِعُوا إِلَى التَّوْبَةِ، وَيَتْرُكُوا مَعَاصِيَ اللَّهِ.

(بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ)

“disebabkan perbuatan tangan manusia”,

Ath-Thabari menafsirkan: yakni karena dosa-dosa manusia, sehingga kezaliman pun menyebar di darat dan di laut. Kerusakan tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan lahir dari akumulasi kesalahan, kelalaian, dan pelanggaran manusia terhadap amanah Allah di muka bumi.

(لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا) 

“Agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka”,

Ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah menimpakan hukuman atas sebagian perbuatan dan kemaksiatan yang mereka lakukan, bukan seluruhnya. Ini menunjukkan bahwa musibah yang terjadi bukanlah bentuk murka total, melainkan teguran yang masih dibalut dengan rahmat. Seandainya Allah membalas seluruh dosa manusia sekaligus, niscaya tak ada satu makhluk pun yang tersisa.

 

“Agar mereka kembali”,

Ath-Thabari menegaskan maksudnya: agar manusia kembali kepada kebenaran, kembali kepada tobat, dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah. Maka musibah, dalam pandangan iman, bukan akhir dari kasih sayang Allah, melainkan pintu untuk pulang—panggilan agar manusia berhenti dari jalan yang salah dan menata ulang arah hidupnya.

Penjelasan ini mempertegas bahwa bencana bukan sekadar peristiwa alam, melainkan peringatan spiritual. Ia tidak dimaksudkan untuk mematahkan harapan, tetapi untuk membangunkan kesadaran. Bahwa bumi rusak bukan karena Allah lalai menjaganya, melainkan karena manusia lalai menjaga amanah-Nya

Harapan akan bangkit dari keterpurukan, tetap optimis dalam menjalani kehidupan, dan tidak pernah putus asa atas nikmat Allah akan tetap hadir pada hamba yang beriman dan yakin bahwa masih banyak nikmat yang Allah titipkan. Kita masih diberi napas, kesehatan, dan yang paling penting adalah kesempatan untuk beribadah. Maka, ibadah adalah wujud syukur yang paling nyata sebagai bentuk kesadaran manusia akan keterbatasan dirinya dan keagugan Tuhan nya. Syukur bukan hanya ucapan di lisan, tetapi juga dalam ketaatan yang terjaga. Setiap sujud yang kita lakukan di tengah keadaan yang sulit adalah pengakuan bahwa Allah masih layak dipuji, bahkan ketika hidup sedang tidak sepenuhnya baik-baik saja.

Hidup tidak hanya mengajarkan tentang syukur. Ia juga mengajarkan sabar, buka hanya dalam menghadapi musibah, juga sabar menahan diri dari maksiat dan sabar untuk tetap taat kepada Allah. Ketika keadaan sulit, terkadang godaan sering datang dengan wajah yang menenangkan, pelarian yang salah, lisan yang lepas kendali, dan hati yang mulai berani melanggar batas-batas aturan syariat. 

Bencana yang terjadi di sekitar kita seharusnya membuat kita lebih berhati-hati dalam melangkah. Bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dalam kelalaian. Dosa bukan perkara sepele,q dan ketaatan bukan sekadar rutinitas. Maka, ketika bumi bergetar dan air meluap, jangan hanya kita hitung kerugian yang tampak di mata, tetapi hitung pula jarak kita dengan Allah. Jangan sekadar bertanya “mengapa ini terjadi?”, melainkan renungkan “ke mana selama ini arah hidup kita berjalan?”. Musibah tidak selalu meminta air mata, kadang ia menuntut perubahan. Ia hadir agar manusia berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan menyadari bahwa hidup bukan sekadar tentang bertahan, tetapi tentang kembali. Kembali kepada syukur yang jujur, sabar yang utuh, dan ketaatan yang tidak ditawar oleh keadaan. Sebab bisa jadi, keselamatan yang paling Allah inginkan bukan hanya selamatnya rumah dan harta, tetapi selamatnya iman dan hati kita ketika kelak kembali kepada-Nya.

Penulis: Hilman Abdullah, S.Hum

Biografi Penulis:

Hilman Abdullah, S.Hum guru Bahasa Arab MAN 1 Yogyakarta

Foto Penulis:


Bagikan Artikel :


Buletin Jumat Madrasah Yang Lain

Bencana sebagai Teguran, Bukan Akhir Sebuah Harapan
06 Feb 2026, 16:28

Keteladanan yang Hilang di Panggung Digital
06 Feb 2026, 16:03

Bank Qur’an: Solusi Memperlakukan Mushaf Al-Qur’an Rusak dengan Layak
05 Dec 2025, 12:27

Setiap Orang adalah Pendidik
10 Oct 2025, 18:26

Menjaga Integritas dan Amanah di Era Digital
03 Oct 2025, 11:18

Translate this website: