Yogyakarta (MAN 1 Yogya) – Salah satu guru MAN 1 Yogyakarta bergabung sebagai anggota baru Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Keikutsertaan ini ditandai dengan kehadiran Lilis Ummi Fa’iezah, S.Pd., M.A., dalam Pengukuhan Badan Pengurus SATUPENA DIY periode 2026–2031 yang berlangsung di Ruang Serbaguna Kantor DPD RI Perwakilan DIY, Jalan Kusumanegara, Yogyakarta, Senin (26/10/2026). Kegiatan ini dihadiri para penulis, pegiat literasi, tokoh masyarakat, dan undangan dari berbagai kalangan.
Terpilih sebagai Ketua SATUPENA DIY periode 2026–2031 adalah Hazwan Iskandar Jaya, S.P., M.M., CMT ASEAN. Pengukuhan pengurus beserta anggota tersebut menjadi momentum untuk memperkuat peran komunitas penulis dalam mengembangkan budaya literasi dan melahirkan karya yang bermakna bagi masyarakat. Selain menjadi ajang silaturahmi dan memperluas jejaring kepenulisan, kegiatan ini juga menghadirkan refleksi tentang pentingnya mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan di tengah perkembangan teknologi digital.
Ketua Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA Pulau Jawa, Dra. Dad Murniah, M.Hum., saat membacakan sambutan Ketua Umum SATUPENA Indonesia, Danny JA, menyampaikan pesan tentang keterbatasan mesin dalam memahami pengalaman manusia. “Mesin dapat menulis tentang kemiskinan, tetapi tidak dapat merasakan secara langsung bagaimana kehidupan seseorang yang mengalaminya.” demikian Danny JA berpesan melalui Dad Murniah. Pesan ini menegaskan bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata dan menyampaikan informasi, melainkan juga menghadirkan empati serta kepekaan terhadap realitas kehidupan.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, penulis dituntut untuk terus menghadirkan kedalaman pemikiran dan sentuhan kemanusiaan dalam karya-karyanya. Teknologi dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mengembangkan gagasan, tetapi pengalaman, kepekaan sosial, dan kemampuan memahami kehidupan tetap menjadi unsur penting dalam menghasilkan tulisan yang bermakna dan menyentuh pembaca.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, S.E., M.M., dalam sambutannya menekankan pentingnya peran SATUPENA sebagai motor penggerak literasi generasi muda yang semakin di era perkembangan teknologi. Menurut Wawan, upaya menghidupkan budaya literasi perlu dilakukan melalui kegiatan yang menarik dan melibatkan generasi muda secara langsung, salah satunya melalui lomba menulis mulai dari jenjang sekolah dasar hingga kalangan generasi muda. Melalui kegiatan tersebut, minat dan keterampilan menulis diharapkan tumbuh sejak dini sehingga semakin banyak generasi muda yang mampu menuangkan gagasan dan pemikirannya dalam bentuk karya.
Wawan juga berharap SATUPENA dapat berkontribusi membangun Yogyakarta melalui karya tulis sekaligus melahirkan penulis-penulis baru yang berkualitas. Dengan demikian, literasi tidak hanya menjadi kegiatan untuk mengembangkan kemampuan individu, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan potensi daerah, mengangkat persoalan masyarakat, dan menyampaikan gagasan yang bermanfaat bagi pembangunan.
Bagi Lilis Ummi Fa’iezah, bergabung dengan SATUPENA menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring, bertukar pengalaman, dan mengembangkan kemampuan kepenulisan bersama para penulis dari berbagai latar belakang. Sebagai guru di MAN 1 Yogyakarta, keterlibatan dalam komunitas ini juga memiliki relevansi dengan dunia pendidikan, khususnya dalam menumbuhkan budaya membaca dan menulis serta mendorong lahirnya gagasan-gagasan kreatif.
Semangat literasi yang mengemuka dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat menginspirasi lingkungan pendidikan untuk memberikan ruang lebih luas bagi murid dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan keberanian menyampaikan pendapat melalui tulisan. Kolaborasi antara komunitas penulis dan dunia pendidikan, budaya literasi diharapkan semakin berkembang dan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. (luf)