Teknologi Maju, Akhlak Jangan Layu

23 Oct 2026, 16:42 Deti Prasetyaningrum (Guru MAN 1 Yogyakarta) 23

Pernahkah kita membayangkan, hanya dengan satu sentuhan jari, kita bisa mengakses ribuan informasi, mempelajari ilmu baru, bahkan menciptakan karya dengan bantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI)? Dunia kini berada dalam genggaman. Peluang terbuka lebar, terutama bagi generasi muda untuk belajar, berinovasi, dan memberi manfaat bagi sesama.

 

Namun, mari kita bertanya kepada diri sendiri: apakah semakin canggih teknologi yang kita gunakan, semakin bijak pula kita dalam menyikapinya?

 

Teknologi ibarat pisau bermata dua. Jika dimanfaatkan dengan tepat, ia menjadi sarana kebaikan. Sebaliknya, tanpa kendali iman dan akhlak, teknologi dapat menjerumuskan kita pada penyebaran hoaks, kecanduan dunia digital, hingga lunturnya kepedulian terhadap sesama.

 

Allah Swt. memberikan teladan tentang keteguhan iman melalui kisah para pemuda dalam QS. Al-Kahf ayat 13. Allah berfirman bahwa mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, lalu Allah menambahkan petunjuk kepada mereka.

 

Kisah Ashabul Kahfi mengajarkan bahwa masa muda bukan sekadar tentang semangat dan kecerdasan, melainkan juga keberanian menjaga iman di tengah berbagai tantangan. Di era digital, keteguhan itu dapat diwujudkan dengan berani menolak konten yang merusak, menjaga kehormatan orang lain, serta tidak menjadikan popularitas sebagai ukuran kebenaran.

 

Allah juga mengingatkan kita agar tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 6, kita diperintahkan untuk melakukan tabayun, yakni memeriksa kebenaran berita sebelum mengambil tindakan.

 

Pesan ini semakin relevan ketika informasi dapat dibuat dan disebarkan dalam hitungan detik. Gambar bisa dimanipulasi, suara dapat ditiru, bahkan AI mampu menghasilkan tulisan yang tampak meyakinkan, tetapi belum tentu benar.

 

Karena itu, sebelum membagikan sebuah berita, berhentilah sejenak. Periksa sumbernya, pastikan kebenarannya, dan pikirkan dampaknya. Jangan sampai jari kita lebih cepat bergerak daripada akal sehat dan hati nurani. Ingat, setiap ucapan dan perbuatan memiliki konsekuensi, termasuk jejak digital yang kita tinggalkan.

 

Tanggung jawab membentuk generasi berkarakter bukan hanya berada di pundak anak muda. Orang tua perlu hadir sebagai pendamping, guru menjadi teladan dalam penggunaan teknologi, ulama membimbing dengan nilai-nilai agama, dan masyarakat menciptakan lingkungan digital yang sehat. Nasihat akan lebih bermakna ketika disertai contoh nyata.

 

Kemajuan teknologi tidak perlu ditakuti, tetapi harus disikapi dengan bijaksana. Gunakan AI untuk memperluas pengetahuan, bukan menggantikan kejujuran. Manfaatkan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, bukan melukai perasaan. Jadikan teknologi sebagai jalan ibadah dan pengabdian kepada sesama.

 

Mari kita renungkan: sudahkah teknologi yang kita gunakan hari ini mendekatkan kita kepada Allah dan memberi manfaat bagi orang lain?

 

Semoga Allah membimbing kita untuk melahirkan generasi yang maju dalam ilmu, kokoh dalam iman, dan mulia dalam akhlak. Generasi yang tidak hanya cerdas menciptakan teknologi, tetapi juga bijak menentukan ke mana teknologi itu akan membawa kehidupan.

 

Amin ya Rabbal ‘alamin.

Penulis: Deti Prasetyaningrum (Guru MAN 1 Yogyakarta)

Biografi Penulis:

Deti Prasetyaningrum adalah salah satu guru Bahasa Inggris MAN 1 Yogyakarta

Foto Penulis:


Bagikan Artikel :


Buletin Jumat Madrasah Yang Lain

Teknologi Maju, Akhlak Jangan Layu
23 Oct 2026, 16:42

Seporsi Nasi Padang Sebelum Wafat
16 Oct 2026, 13:53

Merawat Bumi, Menjaga Amanah dari Allah
09 Oct 2026, 16:34

Mendidik Anak, Mendidik Diri Sendiri
03 Oct 2026, 22:09

Ayyaamul Baid, Saatnya Berbenah Menata Hati
25 Sep 2026, 15:05

Translate this website: