Mendidik Anak, Mendidik Diri Sendiri

03 Oct 2026, 22:09 Lilis Ummi Fa’iezah, M. A. 72

Anak-anak tidak pernah benar-benar berhenti belajar, sementara orang dewasa juga tidak pernah benar-benar berhenti mengajar. Kita sering menganggap belajar terjadi ketika anak berada di kelas atau dalam situasi yang secara formal disebut sebagai pembelajaran. Yang jarang kita sadari, justru ketika kita merasa tidak sedang mengajari mereka, bisa jadi saat itulah kita sedang memberi mereka pelajaran. Mereka memperhatikan cara kita berbicara ketika marah, cara kita memperlakukan orang yang berbeda pendapat, cara kita meminta maaf ketika melakukan kesalahan, bahkan cara kita membicarakan orang lain ketika orang itu tidak ada. Dari hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian itulah, anak perlahan menyusun pemahamannya tentang bagaimana seharusnya seorang manusia bersikap.

 

Sebab, satu tindakan yang dilihat anak sering kali lebih membekas daripada seribu nasihat yang didengarnya. Kita mungkin berkali-kali mengatakan kepada anak agar berbicara dengan sopan. Namun, pada saat yang sama, ia mendengar orang dewasa di rumah berbicara dengan kasar. Kita mengingatkan agar anak tidak mengejek temannya, tetapi di ruang lain ia menyaksikan orang dewasa menertawakan kekurangan seseorang. Kita meminta anak mengendalikan emosi, sementara kemarahan justru menjadi bahasa yang sering ia lihat. Di situlah pendidikan sebenarnya berlangsung. Anak akan belajar lebih banyak dari kehidupan di sekitarnya. Anak akan mengingat dan meniru apa pun yang dilakukan orang dewasa, terutama hal-hal yang menarik perhatiannya. Maka, sudah seharusnya orang dewasa selalu berusaha berperilaku baik, karena di sekitar kita ada anak-anak yang belajar tanpa merasa sedang belajar.

 

Apa yang dilakukan orang dewasa di hadapan anak bukan sekadar perilaku pribadi. Perilaku itu dapat menjadi pelajaran tentang bagaimana memperlakukan orang lain. Karena itu, Islam memberikan perhatian besar pada cara manusia menjaga lisan dan kehormatan sesamanya. Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain ... dan janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” Ayat ini bukan hanya tentang bagaimana kita berbicara kepada orang lain. Ia juga mengingatkan kita bahwa setiap perkataan dan sikap yang dilihat anak dapat menjadi bagian dari nilai yang sedang kita tanamkan. Sebab, dari sanalah anak belajar bagaimana seseorang seharusnya memperlakukan manusia lainnya.

 

Hari ini, ruang belajar anak juga semakin luas. Mereka tidak hanya belajar dari rumah dan sekolah, tetapi juga dari lingkungan pergaulan dan dunia digital. Ruang digital telah menjadi bagian yang begitu dekat dengan kehidupan generasi muda. Di media sosial, mereka dapat melihat orang dewasa saling mencaci, mempermalukan, merendahkan, bahkan menjadikan kemarahan sebagai tontonan. Sosok yang mereka lihat pun bukan hanya orang-orang di sekitar mereka, tetapi juga para pemimpin dan figur publik yang hadir melalui layar-layar digital. Apa yang mereka saksikan berulang kali dapat perlahan membentuk pemahaman mereka tentang bagaimana seseorang berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Teknologi tentu bukan persoalannya. Yang perlu kita renungkan adalah apa yang kita tampilkan melalui teknologi tersebut.

 

Karena itu, sebelum mendidik anak seharusnya kita sudah berupaya untuk terus mendidik diri sendiri. Anak membutuhkan nasihat, tetapi ia juga membutuhkan teladan. Anak perlu diberi tahu bahwa menghormati orang lain itu penting, tetapi ia juga perlu melihat bagaimana orang dewasa meminta maaf ketika salah. Ia perlu diajarkan untuk tidak menyakiti, tetapi ia juga perlu melihat bagaimana konflik diselesaikan tanpa penghinaan. Sebelum mendidik anak, orang dewasa perlu terus belajar mendidik dirinya sendiri. Orang dewasa perlu tahu bagaimana menempatkan diri, karena apa yang dikatakan dan dilakukan dapat menjadi bagian dari pelajaran yang diterima anak.

 

Barangkali inilah bagian yang paling berat dalam mendidik. Kita tidak hanya diminta menjelaskan nilai yang benar, tetapi juga berusaha menjalankannya ketika keadaan tidak mudah. Sebab, menjadi teladan bukan berarti tidak pernah marah, tidak pernah keliru, atau selalu mampu bersikap sempurna. Menjadi teladan justru berarti berusaha menunjukkan bagaimana seharusnya seseorang bersikap ketika berada dalam situasi yang tidak mudah. Menahan kata-kata saat marah, meminta maaf ketika keliru, mendengarkan ketika berbeda pendapat, dan tetap menghormati seseorang yang tidak sependapat dengan kita adalah pelajaran yang mungkin jauh lebih kuat daripada seribu nasihat. Anak tidak hanya belajar dari bagaimana kita bersikap ketika semuanya berjalan baik, tetapi juga dari bagaimana kita menghadapi kesalahan, kekecewaan, dan perbedaan.

 

Anak mungkin lupa apa yang pernah kita katakan pada suatu pagi. Namun, ia bisa mengingat bagaimana kita memperlakukannya ketika ia melakukan kesalahan. Anak mungkin tidak mengingat semua aturan yang pernah kita buat, tetapi ia dapat membawa pengalaman tentang bagaimana orang dewasa memperlakukannya ketika ia sedang marah, kecewa, atau melakukan kesalahan. Rasulullah Saw bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.” (HR. Tirmidzi). Hadis tersebut mengingatkan bahwa hubungan antarmanusia dalam Islam dibangun dengan kasih sayang dan penghormatan. Nilai itu akan lebih mudah dipahami anak ketika ia melihatnya hidup dalam keseharian, bukan hanya mendengarnya sebagai nasihat. Ketika anak melakukan kesalahan, tugas kita bukan sekadar membuatnya takut terhadap hukuman. Anak perlu memahami mengapa perilakunya salah, siapa yang mungkin terluka, dan bagaimana memperbaikinya. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada kepatuhan, tetapi bergerak menuju kesadaran.

 

Rumah menjadi tempat pertama anak mengenal nilai sedang sekolah memperkuatnya. Lingkungan sosial dan dunia digital ikut membentuknya. Dunia digital kini menjadi ruang belajar yang tidak dapat diabaikan. Karena itu, mendidik anak bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Kita semua ikut menciptakan dunia yang sedang mereka pelajari. Anak-anak bukan hanya mendengar nasihat kita. Mereka membaca perilaku kita. Sebelum sibuk mengajarkan anak tentang bagaimana menjadi manusia yang baik, kita perlu terus belajar menjadi manusia yang baik di hadapan mereka. Sebab, mendidik anak pada akhirnya juga berarti mendidik diri sendiri.

 

Penulis: Lilis Ummi Fa’iezah, M. A.

Biografi Penulis:

Lilis Ummi Fa’iezah, M. A. Guru MAN 1 Yogyakarta

Foto Penulis:


Bagikan Artikel :


Buletin Jumat Madrasah Yang Lain

Teknologi Maju, Akhlak Jangan Layu
23 Oct 2026, 16:42

Seporsi Nasi Padang Sebelum Wafat
16 Oct 2026, 13:53

Merawat Bumi, Menjaga Amanah dari Allah
09 Oct 2026, 16:34

Mendidik Anak, Mendidik Diri Sendiri
03 Oct 2026, 22:09

Ayyaamul Baid, Saatnya Berbenah Menata Hati
25 Sep 2026, 15:05

Translate this website: