Di usia remaja ini, hidup menjadi terasa lebih rumit dari apa yang terlihat. Di satu sisi remaja dituntut untuk selalu kuat, mandiri, dan berprestasi, namun di sisi lain banyak hal yang membuat pikiran terasa penuh. Seperti tugas sekolah, masalah pertemanan, konflik di rumah, urusan perasaan, hingga rasa insecure yang sering datang bersamaan. Sayangnya, tidak semua remaja mempunyai tempat yang aman untuk bercerita tentang apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Padahal, memiliki seseorang yang dapat diajak bicara sangatlah penting untuk kesehatan mental dan emosional. Banyak orang lebih memilih memendam semuanya sendiri karena takut dianggap lemah. Padahal, bercerita juga sebagai bentuk keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Dengan berbagi cerita, beban pikiran yang berat bisa terasa lebih ringan dan masalah pun dapat lebih mudah untuk dipahami.
Someone to talk dapat berasal dari siapa saja. Seperti sahabat, orang tua, guru, ataupun konselor. Yang terpenting bukan siapa orangnya, tetapi kesediaannya untuk mendengarkan dengan tulus, tanpa menghakimi, dan memberi rasa aman.
Di sinilah PIK-R (Pusat Informasi dan Konseling Remaja) berperan. PIK-R hadir sebagai ruang aman bagi remaja untuk berbagi cerita dan mencari solusi tanpa rasa takut atau malu. Remaja bisa curhat tentang masalah pribadi, mendapatkan informasi yang benar seputar kesehatan remaja, serta memperoleh dukungan dari teman sebaya yang mengalami hal serupa.
PIK-R juga mengajarkan remaja untuk saling peduli. Tidak hanya berani berbicara, tetapi juga belajar menjadi pendengar yang baik. Terkadang, kehadiran dan perhatian sederhana sudah cukup untuk membantu seseorang menjadi merasa lebih kuat.
Lebih dari sekadar pusat informasi, PIK-R adalah tempat untuk didengar dan dipahami. Tempat di mana remaja diingatkan bahwa mereka tidak sendirian, dan bahwa mencari bantuan adalah langkah yang sehat dan berani. Karena pada akhirnya, semua orang butuh tempat bercerita. Dan PIK-R ada untuk menjadi someone to talk bagi setiap remaja yang membutuhkan. (PIK-R/ aea)