Yogyakarta (MAN 1 Yogyakarta) — Peristiwa tuduhan fitnah terhadap Aisyah radhiyallahu ‘anha merupakan latar belakang turunnya Q.S. An-Nur ayat 11–19. Peristiwa ini terjadi pada tahun 6 H, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin sekitar 700 kaum muslimin menuju perkampungan Bani Musthaliq. Sebagaimana kebiasaannya, Rasulullah memilih secara adil untuk menentukan istri yang akan menemani beliau dalam perjalanan tersebut, dan Aisyahlah yang terpilih.
Kaum muslimin berhasil meraih kemenangan dan dalam perjalanan pulang menuju Madinah mereka singgah di sebuah perkampungan dekat kota. Aisyah saat itu berada di dalam haudaj, sebuah tandu kecil di atas punggung unta. Ia turun untuk mencari kalung pemberian saudaranya yang terjatuh. Tanpa disadari, pasukan berangkat meninggalkan lokasi, karena mereka mengira Aisyah telah berada di dalam haudaj, mengingat tubuh wanita Arab saat itu relatif ringan. Ayat hijab telah diturunkan, sehingga Aisyah membuka cadarnya, bertasbih, beristighfar, dan akhirnya tertidur.
Beberapa waktu kemudian datang Shafwan bin Mu’aththal, seorang sahabat yang ikut Perang Badar dan tertinggal dari rombongan karena tertidur. Ia mengenali Aisyah karena pernah melihatnya sebelum ayat hijab diturunkan. Shafwan mengucapkan istirja’, yang membuat Aisyah terbangun dan membalasnya. Tanpa berkata apa pun, Shafwan mendudukkan untanya, Aisyah menaikinya, dan mereka berjalan menuju Madinah tanpa percakapan.
Ketika keduanya memasuki Madinah, Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin kaum munafik, melihat kesempatan untuk menyebar fitnah. Ia menuduh Aisyah dan Shafwan telah berzina. Masyarakat Madinah terpecah menjadi empat kelompok: pertama, mereka yang menolak mempercayai fitnah dan memilih diam, seperti Abu Ayyub Al-Anshari dan istrinya; kedua, mereka yang tidak membenarkan dan tidak mendustakan, tetapi memperbincangkannya secara terbatas; ketiga, mereka yang turut menyebarkan kabar bohong, di antaranya Misthah bin Utsatsah, Hassan bin Tsabit, dan Hamnah binti Jahsy; dan keempat, pihak pencetus fitnah, yaitu Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih bersikap diam dan menunggu wahyu dari Allah. Aisyah sendiri jatuh sakit selama sebulan sepulang dari peperangan. Ia merasakan perubahan sikap Rasulullah yang biasanya penuh kasih, namun kali ini menjaga jarak. Hal itu membuat Aisyah sangat sedih
Rasulullah meminta pendapat para sahabat. Ali bin Abi Thalib menyarankan agar Rasulullah menceraikan Aisyah dan mencari pengganti, sementara Usamah bin Zaid dan sahabat lainnya menolak pandangan tersebut. Rasulullah kemudian menyampaikan kegelisahannya di hadapan kaum muslimin. Usaid bin Hudhair bangkit dan ingin membunuh Abdullah bin Ubay, namun Sa’ad bin Ubadah, pemimpin Khazraj, menentangnya karena satu kabilah. Terjadi perdebatan sengit hingga Rasulullah memerintahkan mereka diam dan kembali ke kamarnya.
Aisyah belum mengetahui kabar fitnah itu hingga suatu malam ia keluar bersama Ummu Misthah. Saat Ummu Misthah terjatuh dan mencela anaknya, Misthah, Aisyah menegurnya. Dari situlah Aisyah mengetahui kabar bohong yang menimpanya. Ia meminta izin kepada Rasulullah untuk menemui orang tuanya. Ibunya berusaha menenangkannya dengan mengatakan bahwa kecemburuan sering menimpa perempuan yang dicintai suaminya. Namun Aisyah menangis semalaman dan berhari-hari.
Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita, “Pada hari itu aku menangis. Air mataku terus menetes tanpa henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kedua orang tuaku mengira tangisan itu akan membelah hatiku. Ketika keduanya duduk di sampingku dan aku masih menangis, datang seorang perempuan Anshar meminta izin, lalu ia duduk sambil menangis bersamaku. Dalam keadaan demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk dan duduk. Beliau tidak pernah duduk di sampingku sejak isu itu tersebar, dan telah sebulan penuh wahyu belum turun tentang perkaraku. Beliau bersabda, ‘Amma ba’du, wahai Aisyah. Telah sampai kepadaku isu tentang dirimu. Jika engkau bersih, Allah pasti akan membebaskanmu. Namun jika engkau berbuat dosa, mohonlah ampun dan bertaubat kepada Allah, karena Allah menerima taubat hamba-Nya.’”
Setelah itu, Aisyah meminta Abu Bakar menjawab, namun ia tidak mampu. Ibunya pun demikian. Dengan isak tangis, Aisyah berkata bahwa ia masih belia dan menyadari orang-orang telah mempercayai kabar itu. Ia berkata demi Allah, aku tidak menjumpai diriku dan diri kalian suatu perumpamaan selain sebagaimana yang disabdakan Nabi Yusuf ‘alaihis salam:
فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ
“Maka hanya kesabaran yang baik itulah pilihanku, dan kepada Allah aku memohon pertolongan atas apa yang kalian ceritakan.” (QS. Yusuf: 18)