Tombo Ati atau Tombol Hati ?

17 Mar 2026, 05:29 MAN 1 Yogyakarta 55

this used to be photo

Di era digital, hati manusia sering kali terwakili oleh satu simbol kecil, ikon berbentuk hati. Di Instagram atau TikTok, satu ketukan pada tombol hati mampu memunculkan notifikasi, menaikkan angka, dan menghadirkan rasa senang , walau sesaat. Banyak anak muda, bahkan orang dewasa, tanpa sadar menunggu tanda itu sebagai ukuran diterima atau tidaknya diri mereka. Hal yang perlu dipertanyakan adalah, benarkah tombol hati itu mampu menjadi tombo ati atau obat bagi kegelisahan batin yang sesungguhnya.
Ada lima obat hati: membaca Al-Qur’an dan maknanya, mendirikan salat malam, berkumpul dengan orang saleh, memperbanyak puasa, dan memperpanjang zikir malam. Lima hal ini menuntun hati pada ketenangan yang hakiki, bukan sekadar kesenangan sementara.
Dalam tradisi spiritual Islam, tombo ati telah lama dikenal sebagai jalan menuju ketenangan sejati. Ada lima di antaranya: membaca Al-Qur’an beserta maknanya, mendirikan salat malam, berkumpul dengan orang-orang saleh, memperbanyak puasa, dan memperpanjang zikir di waktu malam. Lima laku ini tidak menjanjikan sensasi instan, tetapi perlahan menuntun hati menuju ketenteraman yang mendalam dan menetap.
Allah Swt. menegaskan dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28;
اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْب
“ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” 
Ayat ini memberi pesan jelas bahwa ketenangan sejati tidak bergantung pada validasi manusia.  Ia lahir dari kedekatan dengan Sang Pencipta.

Fenomena “tombol hati” di media sosial seperti Instagram dan TikTok menunjukkan bagaimana manusia modern sering menggantungkan rasa percaya diri pada respons digital. Ketika unggahan mendapat banyak like, hati terasa senang. Namun saat sepi respons, muncul kegelisahan, bahkan rasa rendah diri. Padahal, nilai diri seseorang tidak pernah ditentukan oleh algoritma.
Bagi dunia pendidikan, ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Peserta didik hidup dalam ruang yang tak terpisah dari media sosial. Kita perlu mengedukasi, mengajarkan literasi digital yang dibarengi dengan literasi hati. Anak-anak perlu memahami bahwa media sosial hanyalah alat, bukan sumber kebahagiaan.
Ramadan menjadi momentum tepat untuk merefleksikan hal ini. Di bulan suci, kita diajak menahan diri, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari ketergantungan berlebihan pada hal-hal yang bersifat duniawi. Ramadan melatih kita untuk memindahkan pusat kebahagiaan dari “penilaian manusia” menuju “rida Allah Swt”.
Bayangkan jika waktu yang kita gunakan untuk menunggu notifikasi dialihkan untuk membaca beberapa ayat Al-Qur’an. Bayangkan jika energi yang dihabiskan untuk membandingkan diri dengan orang lain diganti dengan muhasabah dan doa. Hati mungkin tidak langsung merasakan sensasi seperti saat mendapat banyak like, tetapi ia akan perlahan menjadi lebih lapang dan stabil.
Akhirnya, pilihan ada pada kita: mengejar “tombol hati” atau merawat “tombo ati”. Yang pertama memberi bahagia sesaat, yang kedua menghadirkan ketenangan yang menetap. Semoga Ramadan ini menjadi titik balik untuk membersihkan hati, menata niat, dan menemukan kembali sumber ketenangan sejati bukan di layar Hp, tetapi di dalam kedekatan dengan Allah Swt.

Penulis: Putri Luthfiana, Lc –(Guru Fikih dan Tahfiz Man 1 Yogyakarta)


Bagikan Artikel :


Berita Yang Lain

Tombo Ati atau Tombol Hati ?
17 Mar 2026, 05:29

Ramadan Momen Transformasi Diri dan Kepedulian Sesama
17 Mar 2026, 05:28

Keutamaan Bulan Ramadan bagi Umat Islam
17 Mar 2026, 05:25

Bangga! DPW PAN DIY Sambut Tim CCI MAN 1 Yogyakarta Peraih Juara Nasional
16 Mar 2026, 09:08

MAN 1 Yogyakarta Raih Juara 2 Nasional PANDAI 2026
16 Mar 2026, 09:06

Translate this website: