Yogyakarta (MAN 1 Yogyakarta) – Mengawali masa fitrah setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh, keluarga besar MAN 1 Yogyakarta menggelar kegiatan Syawalan pada Kamis (26/03/2026). Bertempat di Aula lantai 2 MAN 1 Yogyakarta, kegiatan Syawalan ini mengusung tema “Reset Hati, Reconnect Silaturahmi, Restart Diri untuk Tumbuh Lebih Baik”. Kegiatan syawalan dihadiri oleh seluruh guru, tenaga kependidikan, komite serta purnatugas guru dan tendik MAN 1 Yogyakarta. Dalam kesempatan tersebut, hadir sebagai narasumber dr. H. Tejo Katon, S.Si., Stats, M.B.A., M.M.
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa Syawalan merupakan momentum untuk kembali menyambung hubungan dengan kolega sekaligus memperkuat ukhuwah di lingkungan madrasah. Edi mengajak seluruh civitas madrasah untuk menjadikan momen ini sebagai titik awal dalam memperbaiki diri, baik dalam kinerja, akhlak, maupun semangat belajar dan mengajar, unruk membangun MAN 1 Yogyakarta yang unggul, berkarakter, dan berprestasi. “Kita perkuat ukhuwah, baik antarguru, tenaga kependidikan, maupun peserta didik. Karena dari silaturahmi yang kuat akan lahir lingkungan yang harmonis dan penuh keberkahan,” ujar Edi.
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa Syawalan merupakan momentum untuk merekatkan kembali hubungan sekaligus memperkuat ukhuwah di lingkungan madrasah. Ia mengajak seluruh civitas madrasah untuk menjadikan momen ini sebagai titik awal dalam memperbaiki diri, baik dalam kinerja maupun akhlak-kepribadian, guna mewujudkan MAN 1 Yogyakarta sebagai lembaga yang unggul, berkarakter, dan berprestasi. “Kita perkuat ukhuwah, baik antarguru, tenaga kependidikan, maupun peserta didik. Karena dari silaturahmi yang kuat akan lahir lingkungan yang harmonis dan penuh keberkahan,” ujar Edi.

Dalam tausiyahnya, dr. Tejo Katon menyampaikan bahwa restart hati telah dimulai semenjak melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh dan dapat diibaratkan sebagai proses detoksifikasi, yaitu membersihkan racun fisik maupun racun hati. “Jika setelah Ramadan hati belum berubah, maka bisa jadi kita belum benar-benar berhasil melakukan restart. Hati itu berfungsi sebagai filter. Jika filternya rusak, maka akan rusak pula semuanya,” tegas dr Tejo.
Lebih lanjut, dr, Tejo menyitir sebuah hadist riwayat Imam Bukhari dan Muslim dimana Rosulullah bersabda yang artinya: “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati.” Ia menjelaskan bahwa hati yang kotor akan menghalangi seseorang dalam menerima kebenaran dan kebaikan, sedangkan hati yang bersih akan melahirkan sikap lapang, mudah memaafkan, serta mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama.
Selain pentingnya membersihkan hati, dr. Tejo juga mengajak seluruh peserta untuk memperbanyak sedekah setelah Ramadan. Ia menegaskan bahwa sedekah tidak selalu berupa materi, tetapi juga dapat dilakukan melalui hal-hal sederhana, seperti tersenyum kepada sesama.
Momentum pasca Ramadan – Idul Fitri menekankan bahwa restart diri bukan sekadar semangat sesaat, tetapi merupakan komitmen untuk melakukan perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan meningkatkan kualitas ibadah pasca Ramadan dan memperbaiki niat dalam bekerja agar setiap aktivitas bernilai ibadah. (wk)