Strategi Mengembalikan Golden Age of Islam dengan Meneladani Sikap Rasulullah saw

21 Feb 2026, 13:54 MAN 1 Yogyakarta 103

this used to be photo

“Pemimpin adalah orang yang menginspirasi orang lain untuk bermimpi lebih banyak, belajar lebih banyak, berbuat lebih banyak, dan menjadi lebih baik.” John Quincy Adams.

Sebagaimana pada Masa Keemasan Islam (Golden Age of Islam), kemajuan peradaban tidak terlepas dari dukungan kuat para penguasa Abbasiyah, seperti Khalifah Harun Al-Rasyid dan Al-Ma'mun. Mereka mendorong perkembangan ilmu pengetahuan melalui sistem pendidikan yang maju, stabilitas politik dan ekonomi yang terjaga, serta semangat toleransi terhadap ilmu dari berbagai peradaban kuno. Tidak hanya itu, penemuan Al-Khwarizmi dalam bidang aljabar, riset Ibn al-Haytham tentang optik, serta karya medis Ibn Sina menjadi tonggak penting peradaban dunia, bahkan pengaruhnya masih terasa hingga saat ini.

Namun, setiap puncak kejayaan pasti diiringi fase penurunan. Pada masa itu pula terjadi berbagai perpecahan di antara dinasti-dinasti Islam yang melemahkan persatuan dan stabilitas sosial. Selain itu, menurunnya semangat ijtihad serta berkembangnya fanatisme mazhab turut menghambat inovasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan demikian, sebuah negara jelas membutuhkan pemimpin yang baik dan bijaksana pemimpin yang berani mengambil langkah untuk melindungi, bukan memerangi; menjaga, bukan menyiksa, apalagi kabur ke Singapura. Seorang pemimpin harus mampu mewujudkan apa yang diucapkannya, bukan sekadar menyampaikan janji yang menghilang setelah pencoblosan, terlebih jika hanya hadir karena faktor keturunan. Tidak dapat dimungkiri, seorang pemimpin akan menjadi contoh dan panutan bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 44 disebutkan:

اتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُم تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

“Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?”

Menurut Imam Al-Baidhawi, berdasarkan riwayat Ibnu Abbas RA, ayat ini turun berkenaan dengan para pemuka agama Yahudi. Mereka secara perlahan menganjurkan orang-orang yang mereka nasihati untuk mengikuti Nabi Muhammad SAW, tetapi mereka sendiri tidak melaksanakannya.

Padahal, kepribadian Rasulullah adalah teladan terbaik, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu.”

Memang bukan perkara mudah. Namun, mampukah kita mengembalikan masa kejayaan itu? Dan bagaimana cara mewujudkannya?

1. Membangun pribadi yang baik. Sebab sebelum memimpin orang lain, bukankah lebih baik memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu?

2. Memimpin dengan berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah.

3. Senantiasa mendengarkan aspirasi masyarakat.

4. Yang paling utama, selalu memohon ampun dan perlindungan kepada Allah SWT agar dihindarkan dari berbagai perkara yang membahayakan.

Semoga upaya ini mampu membangkitkan jiwa kita untuk meneladani sikap Rasulullah saw, sehingga kejayaan peradaban Islam dapat kembali terwujud.(aik)


Bagikan Artikel :


Berita Yang Lain

Diburu Ribuan Pendaftar, MAN 1 Yogyakarta Hanya Buka 282 Kursi PMB 2026/2027
03 Jul 2026, 07:12

Ketat! 578 Pendaftar Berebut 34 Kursi PMB Gelombang 2 MAN 1 Yogyakarta
03 Jul 2026, 07:06

Belajar dengan Hati: Cara ‘Nyeleneh’ Faishal MAN 1 Yogyakarta Temukan Jalan di Dunia Bahasa
03 Jul 2026, 07:04

Idealis pada Jurusan Impian, Realistis Memilih Kampus: Perjalanan Rifo, Murid MAN 1 Yogyakarta, Menggapai UPI
02 Jul 2026, 07:08

Saat Kemalasan Dikalahkan oleh Mimpi: Kisah Azrha, Murid MAN 1 Yogyakarta, Menuju Statistika UNY
02 Jul 2026, 07:07

Translate this website: