Yogyakarta selalu menemukan cara untuk terasa lebih hidup saat Ramadhan tiba. Malam-malamnya berpendar oleh cahaya lampu masjid, gema ayat suci, dan langkah-langkah jamaah yang berpindah dari satu titik ke titik lain dalam tradisi tarawih keliling. Di Masjid Gedhe Mataram Kotagede, sejarah berdiri kokoh lebih dari empat abad. Di Masjid Jogokariyan, kas sering dibuat ‘nol’ bukan karena kekurangan, tetapi karena digerakkan untuk memberdayakan jamaah. Masjid Gedhe Kauman menyimpan dua rumah gamelan Sekaten di halamannya. Sunyi, tetapi sarat makna. Sementara Masjid Syuhada berdiri sebagai penanda ingatan. Ia dibangun atas gagasan Soekarno untuk mengenang para syuhada pertempuran Kotabaru. Jogja pada bulan puasa seperti hamparan tafsir. Ia bisa dibaca dari banyak arah.
Malam itu, sepulang dari Masjid Syuhada, sebuah pesan masuk, motor seorang kawan mogok. Namanya Habib. Asal Lombok. Alumni Universitas Al-Azhar jurusan Tafsir. Sejak tahun lalu ia memilih jalan yang tak lazim, menempuh perjalanan jauh dengan Vespa tua keluaran 1973, bersilaturahmi ke kawan-kawan semasa kuliah di Mesir yang kini tersebar di berbagai kota di Pulau Jawa, antara lain, Jakarta, Bandung, Sragen dan Kediri. Sepanjang perjalanan, roda Vespa pernah lepas, mesin pernah mati dan ban bocor sudah jadi cerita biasa. Namun ia selalu menyelipkan satu kalimat yang sama di setiap kisahnya, “Selalu saja ada pertolongan dari arah yang tak terduga.” Ramadhan ini ia kembali ke Jogja. Awalnya ia berniat melanjutkan S2 di Mesir. Entah bagaimana, kota ini seperti membisikkan pilihan lain. Ia memutuskan menetap dan melanjutkan studi di sini saja.
“Kawat koplingnya lepas,” tulisnya lewat WhatsApp.
Saya pulang mengambil peralatan bengkel seadanya, meski sejatinya saya tak benar-benar paham otomotif. Setelah menelusuri titik share location, saya menemukannya berdiri di samping Vespa biru astuti.
“Asli tujuh tiga,” katanya bangga dengan wajah setengah pasrah.
Kami berdua sama-sama tidak ahli mesin. Maka, jika dinilai dari logika praktis, keputusannya mengelilingi Pulau Jawa dengan Vespa renta itu memang terdengar konyol. Namun malam itu, di antara tangan yang belepotan oli dan bibir yang tak henti melafazkan kalimah thayyibah, ada keyakinan yang terasa lebih kuat daripada kabel kopling yang putus.
Butuh waktu kira-kira sepanjang 23 rakaat tarawih untuk membuat mesin itu kembali patuh. Setelahnya, kami meluncur ke Omah Kopi, tempat pertama kali bertemu pada Ramadhan tahun lalu.
Di sana, di hadapan secangkir kopi durian yang mengepul, saya mengajukan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal.
“Apa sebenarnya motivasimu melakukan semua ini?” saya bertanya menyelidik.
Ia tersenyum, lalu menjawab dengan nada tenang, nyaris seperti sedang membuka kitab.
“Pak Agus, saya ini sarjana ilmu Tafsir. Tafsir berasal dari akar kata fassara, yang berarti menjelaskan, menyingkap sesuatu yang tersembunyi. Pelakunya disebut mufasir.”
Saya mengangguk, walau dahi mengernyit. Sangat sulit rasanya untuk bisa paham. Latar belakang saya teknik komputer. Riwayat pesantren hanya sebatas pesantren kilat Ramadhan waktu SMA.
Di sisi lain, safara akar kata dari musafir yang memiliki wazan yusafiru, musafaratan yang artinya perjalanan. Baik fasara maupun safara memiliki makna dasar berkaitan dengan menampakkan sesuatu yang sebelumnya tersembunyi. Jadi, Musafir adalah orang yang menyingkap bumi dengan kakinya, maka Mufasir adalah orang yang menyingkap ilmu dengan akal dan mata hatinya. Maka jika Pak Agus bertanya mengapa saya menghabiskan waktu dengan Vespa tua mengelilingi Pulau Jawa, jawaban saya adalah setiap mufasir adalah seorang musafir.
Ia melanjutkan, “Di sisi lain ada kata safara, akar dari musafir, memiliki wazan yusafiru, musafaratan yang artinya perjalanan. Kedua kata tersebut, secara makna dasar, sama-sama berbicara tentang menyingkap. Musafir menyingkap bumi dengan langkahnya. Mufasir menyingkap makna dengan akal dan mata hatinya.”
Ia berhenti sejenak, menyeruput kopi. “Jadi, jika Pak Agus bertanya kenapa saya mengelilingi Jawa dengan Vespa tua, jawabannya sederhana, “Setiap mufasir adalah seorang musafir.” Kalimat itu meluncur ringan, tetapi menetap berat di kepala saya.
Malam makin larut. Kafein bekerja, dopamin menari, dan bekerja aktif membuat kami tak bosan-bosan memperbincangkan segala hal. Percakapan kami melompat dari piramida Giza hingga Gunung Padang, dari perhitungan tujuh hari dalam sepekan warisan Mesopotamia hingga misteri peradaban kuno. Namun kami sadar, sahur tak boleh terlewat. Ada keberkahan di dalamnya. Allah dan malaikat bershalawat kepada orang-orang yang bangun untuk makan sahur (HR Ahmad). Menjelang dini hari kami berpisah. Saya pulang dengan satu kesadaran baru, ilmu bukan sekadar sesuatu yang dihafal, melainkan sesuatu yang dihidupi. Sebagian orang belajar untuk lulus. Sebagian lagi belajar untuk mengajar. Tetapi ada pula yang belajar untuk berjalan, menjadikan hidupnya sendiri sebagai perjalanan tafsir.
Dan diri Mas Habib, saya melihat itu, ilmu yang tidak tinggal di kepala, tetapi turun ke kaki, menempuh jalan, menyapa kota, dan percaya bahwa setiap jarak adalah cara Tuhan menyingkapkan makna. Barangkali benar, setiap mufasir memang seorang musafir. Dan setiap perjalanan, jika dijalani dengan kesadaran, adalah ayat yang sedang ditafsirkan.
Penulis: Slamet Agus Santosa, M.Pd. (Guru TIK MAN 1 Yogyakarta)