Yogyakarta (MAN 1 Yogya) — Seleksi jalur tahfiz Penerimaan Murid Baru (PMB) MAN 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2026/2027 tidak sekadar menguji kemampuan menghafal Al-Qur’an. Lebih dari itu, proses ini menjadi arena yang menuntut ketangguhan mental para calon murid. Sebanyak 68 peserta mengikuti seleksi yang digelar pada Sabtu (19/4/2026), dengan kuota penerimaan yang akan disesuaikan berdasarkan persentase dan kualitas hasil seleksi.
Pelaksanaan seleksi dibagi ke dalam tiga shift untuk menjaga efektivitas dan ketertiban. Para peserta diwajibkan hadir satu jam sebelum jadwal guna melakukan registrasi sekaligus menerima lembar tahfiz on the spot, sebuah metode pengujian yang menuntut kesiapan hafalan secara spontan. Ujian ini dipandu oleh para penguji dari guru tahfiz dan guru pendidikan agama.
Materi yang diujikan tidak ringan. Selain hafalan on the spot, peserta juga diminta menyetorkan hafalan minimal tujuh juz yang telah diajukan sebelumnya. Semakin banyak juz yang diujikan, semakin panjang pula durasi penilaian yang harus dilalui.
Koordinator Jalur Tahfiz, Muhammad Amin,S.Ag, MA menyebut pelaksanaan hari pertama berjalan lancar meski diwarnai dinamika khas ujian lisan.
“Secara umum lancar dan ramai. Durasi ujian menyesuaikan jumlah juz yang disetorkan. Namun, ada juga momen menarik, ada peserta yang sebenarnya sudah hafal di rumah, tetapi saat di depan penguji menjadi grogi hingga hafalannya hilang,” ujarnya.

Fenomena tersebut, menurutnya, menjadi gambaran bahwa seleksi tahfiz tidak hanya berbicara tentang kapasitas hafalan, tetapi juga kesiapan psikologis peserta dalam menghadapi tekanan. Di sisi lain, sikap para orang tua dan peserta dinilai cukup kooperatif. Kehadiran mereka menunjukkan antusiasme tinggi terhadap jalur tahfiz sebagai salah satu pintu masuk ke MAN 1 Yogyakarta.
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag, S.Pd, M.Pd, menegaskan bahwa jalur tahfiz merupakan bagian dari komitmen madrasah dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai keagamaan.
“Seleksi ini kami rancang untuk menjaring murid yang tidak hanya memiliki kemampuan hafalan, tetapi juga kesiapan mental dan komitmen dalam menjaga Al-Qur’an. Kami ingin membentuk generasi yang berkarakter, berakhlak, dan memiliki kedalaman spiritual,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses seleksi yang ketat merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas lulusan sekaligus memastikan bahwa setiap murid yang diterima benar-benar siap mengikuti program tahfiz di lingkungan madrasah. (dee)