Safira, Hafidzah MAN 1 Yogyakarta Raih Beasiswa BSI dan Tembus UGM

05 Jun 2026, 08:12 MAN 1 Yogyakarta 63

this used to be photo

"Jika kamu tidak tahan lelahnya belajar, maka kamu harus tahan menanggung
perihnya kebodohan."
- Imam Syafi'i -

Di saat banyak remaja seusianya masih mencari arah masa depan, Safira Nasha Anggita, salah satu murid MAN 1 Yogyakarta kelas XII E telah memilih jalan yang ingin diperjuangkan. Bukan jalan yang mudah, melainkan jalan yang menuntut disiplin, kesabaran, dan pengorbanan. Hari-harinya diisi dengan belajar, murojaah hafalan Al-Qur'an, serta menata mimpi yang perlahan dibangun melalui usaha yang konsisten.

Dari ruang-ruang belajar di MAN 1 Yogyakarta, gadis asal Gunungkidul ini membuktikan bahwa mimpi besar dapat diraih oleh mereka yang mau bersungguh-sungguh menjaganya. Kini, langkah konsisten itu mengantarkannya diterima di Program Studi Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM), salah satu program studi yang banyak diminati calon mahasiswa di Indonesia.

Bagi Safira, diterima di perguruan tinggi impian bukanlah sekadar pencapaian akademik. Lebih dari itu, keberhasilan tersebut menjadi pintu awal untuk mewujudkan cita-cita yang telah tumbuh sejak kecil. Ketertarikannya terhadap dunia kesehatan membuatnya mantap memilih Program Studi Gizi sebagai jalan pengabdian di masa depan.

Lahir dari pasangan Samadi dan Sunarwi, Safira tumbuh dengan keyakinan bahwa kesehatan adalah investasi yang harus dijaga sejak dini. Menurutnya, banyak penyakit sebenarnya dapat dicegah sebelum harus diobati. Dari pemikiran sederhana itulah muncul keinginannya untuk mendalami ilmu gizi dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pola hidup sehat.
"Lebih baik mencegah daripada mengobati. Saya ingin mengajak dan mengedukasi masyarakat bahwa langkah pencegahan penyakit dapat dimulai dari memperbaiki pola makan dan isi piring kita setiap hari," ungkap Safira.

Keinginan untuk memberikan manfaat bagi orang lain itulah yang menjadi bahan bakar semangat bagi Safira selama menempuh pendidikan. Ia menyadari bahwa cita-cita besar tidak akan terwujud hanya dengan harapan. Dibutuhkan kerja keras yang dilakukan secara konsisten, bahkan ketika tidak ada yang melihat prosesnya.

Dalam belajar, Safira memiliki prinsip sederhana yaitu pahami terlebih dahulu, baru kemudian berlatih. Ia tidak terburu-buru mengejar banyak materi, tetapi berusaha memahami konsep secara mendalam sebelum mengasahnya melalui latihan soal, kuis, diskusi dengan teman, maupun konsultasi dengan guru.

Untuk menjaga fokus, Safira membagi waktu belajarnya ke dalam beberapa sesi dengan jeda istirahat singkat di antaranya. Pola belajar yang dikenal sebagai teknik Pomodoro tersebut membantunya tetap berkonsentrasi tanpa mudah merasa jenuh. Namun baginya, keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh lamanya waktu yang dihabiskan di depan buku, melainkan juga kemampuan mengenali saat-saat terbaik ketika pikiran berada dalam kondisi paling segar.

Safira kerap memanfaatkan waktu-waktu yang disebut paling mujarab dan produktif, yaitu setelah salat tahajud, setelah Subuh, dan setelah Magrib. Di saat suasana masih tenang dan sebagian besar orang belum memulai aktivitas, Safira justru memanfaatkan waktu tersebut untuk berdialog dengan buku-buku dan target-target yang ingin dicapainya. Baginya, pagi hari atau waktu-waktu hening bukan sekadar awal aktivitas, tetapi kesempatan untuk selangkah lebih dekat dengan impian. 
"Jangan hanya belajar lama, tetapi belajarlah pada waktu yang tepat," tutur Safira.

Meski demikian, Safira juga memahami bahwa setiap orang memiliki batas. Saat rasa jenuh mulai datang, ia memilih berhenti sejenak untuk mengembalikan energi dan semangat. Mendengarkan musik atau bernyanyi menjadi cara sederhana yang sering ia lakukan untuk menyegarkan pikiran sebelum kembali belajar.

Di balik prestasi akademiknya, Safira juga memikul amanah yang tidak ringan dan tidak banyak yang mampu mengembannya yaitu sebagai seorang hafidzah. Baginya, menghafal Al-Qur'an bukan sekadar pencapaian, melainkan tanggung jawab yang harus dijaga sepanjang hayat. 
"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur diberikan amanah yang luar biasa ini. Karena itu saya merasa harus menjaganya dengan terus murojaah setiap hari," ujar Safira dengan rendah hati.

Kesibukan belajar dan persiapan masuk perguruan tinggi tidak membuatnya menjauh dari Al-Qur'an. Safira tidak menunggu waktu luang untuk murojaah. Sebaliknya, ia berusaha meluangkan waktu di sela-sela aktivitas agar hafalan tetap terjaga. Dengan metode pengulangan ayat secara terus-menerus dan setoran rutin kepada ustaz maupun ustazah, ia belajar bahwa konsistensi adalah kunci dari setiap keberhasilan.

Prinsip yang sama juga mengantarkannya meraih Beasiswa Bank Syariah Indonesia (BSI). Berawal dari informasi yang ia temukan melalui media sosial, Safira kemudian aktif mencari tahu lebih lanjut dan berkonsultasi dengan guru Bimbingan dan Konseling. Proses seleksi yang meliputi tes dan penulisan esai dijalaninya dengan sungguh-sungguh, sembari terus menjaga prestasi akademiknya.

Berbagai pengalaman tersebut memberinya pelajaran berharga bahwa kesempatan tidak datang begitu saja. Kesempatan harus dicari, diperjuangkan, dan disambut dengan persiapan yang matang. Keberanian untuk mencoba sering kali menjadi pembeda antara mereka yang hanya bermimpi dan mereka yang berhasil mewujudkannya.

Kini, lembaran baru telah menanti di hadapannya. Safira berharap dapat menyelesaikan studi dengan hasil terbaik, melanjutkan pendidikan profesi gizi, serta memberikan dampak positif bagi masyarakat melalui ilmu yang diperolehnya. 
“Salah satu indikasi bangsa yang makmur adalah apabila masyarakatnya sehat dan paham kesehatan,” kata Safira. 
Ia ingin menjadi bagian dari generasi yang tidak hanya sukses untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Kepada adik-adik kelas yang nantinya naik ke kelas XII dan mempersiapkan diri menghadapi SNBT dan berbagai seleksi masuk perguruan tinggi, Safira berpesan agar tidak menyia-nyiakan waktu yang masih dimiliki.
"Semangat selalu belajarnya. Persiapkan tes SNBT sebaik mungkin mumpung masih ada banyak waktu. Atur jadwal dan prioritas, fokus pada satu tujuan jurusan dan universitas yang diinginkan, serta yakinkan diri bahwa kalian mampu. Perjuangkan mimpi kalian, karena mimpi kita sangat berharga."

Kisah Safira Nasha Anggita mengajarkan bahwa keberhasilan tidak lahir dari keberuntungan semata. Ia tumbuh dari disiplin yang dijaga setiap hari, doa yang tidak pernah putus, serta keyakinan untuk terus melangkah meski jalan terasa panjang. Dari MAN 1 Yogyakarta, Safira melangkah menuju Universitas Gadjah Mada dengan membawa harapan besar dan semangat untuk memberi manfaat. Sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa mimpi akan menemukan jalannya menuju kenyataan ketika dijaga dengan kesungguhan dan diperjuangkan tanpa lelah.


Penulis: Lilis Ummi Fa'iezah, S.Pd., M.A.


Bagikan Artikel :


Berita Yang Lain

Jalan Tak Terduga Raudy MAN 1 Yogyakarta ke IPB
05 Jun 2026, 09:45

Safira, Hafidzah MAN 1 Yogyakarta Raih Beasiswa BSI dan Tembus UGM
05 Jun 2026, 08:12

Melatih Writing Skill dan Literasi Digital, Guru MAN 1 Yogyakarta Terapkan Proyek Story Book
04 Jun 2026, 20:28

MAN 1 Yogyakarta Perkuat Sinergi Organisasi melalui Studi Banding FOKSI 2026
04 Jun 2026, 13:23

Saat Hasil Tryout Tak Berpihak, Adila MAN 1 Yogyakarta Justru Lolos UGM
04 Jun 2026, 13:10

Translate this website: