Rasa Penasaran Perjalankan Taqiyya, Murid MAN 1 Yogyakarta ke Peternakan UNDIP

12 Jun 2026, 10:55 MAN 1 Yogyakarta 13

this used to be photo

"Try as many things as possible because nothing lasts forever."
~ Taqiyya Aqila Aliyyanda ~


Sebuah pilihan tidak selalu lahir dari sesuatu yang sudah lama dicintai. Terkadang, pilihan terbaik justru datang setelah seseorang berani membuka lembaran baru dan mengenal hal yang sebelumnya terasa asing. Bagi Taqiyya Aqila Aliyyanda, perjalanan menuju Program Studi Peternakan Universitas Diponegoro bukanlah kisah tentang mimpi masa kecil yang telah direncanakan sejak lama. Sebaliknya, perjalanan itu dimulai dari rasa penasaran, kemauan untuk belajar, dan keberanian untuk melihat peluang di balik sesuatu yang belum banyak ia ketahui. Sikap itulah yang kemudian mengantarkan murid MAN 1 Yogyakarta ini menuju gerbang kampus impiannya.

Seperti banyak murid lainnya, Taqiyya, putri dari Arfi Nurdiyantoro dan Dwi Martini pernah berada pada fase mencari jurusan yang benar-benar sesuai dengan minat dan potensi dirinya. Dalam proses tersebut, Program Studi Peternakan awalnya bukan pilihan yang langsung menarik perhatiannya. Taqiyya bahkan mengaku belum memiliki banyak pengetahuan tentang bidang tersebut.

Namun, alih-alih mengabaikannya, Taqiyya memilih untuk mencari tahu lebih jauh. Ia mulai membaca berbagai informasi mengenai dunia peternakan, ruang lingkup keilmuannya, hingga prospek karier yang dapat ditempuh para lulusannya. Semakin banyak informasi yang diperoleh, semakin terbuka pula pandangannya terhadap bidang yang selama ini belum begitu dikenalnya. "Justru karena belum tahu banyak, saya mencoba mencari informasi lebih dalam, dan ternyata bidang ini menarik untuk dipelajari," ungkap Taqiyya.

Pengetahuan baru tersebut mengubah cara pandang Taqiyya. Ia menyadari bahwa peternakan merupakan bidang yang sangat luas dan memiliki kontribusi besar dalam kehidupan masyarakat. Tidak hanya berkaitan dengan penyediaan pangan, bidang ini juga berhubungan dengan kesehatan, teknologi, penelitian, dan pengembangan ekonomi.

Dari berbagai macam pencarian, Taqiyya melihat bahwa lulusan Peternakan memiliki peluang karier yang beragam. Mereka dapat berkiprah di sektor industri, lembaga penelitian, instansi pemerintah, maupun membangun usaha sendiri. Prospek yang luas inilah yang semakin menguatkan keyakinannya untuk memilih Program Studi Peternakan sebagai langkah berikutnya dalam perjalanan akademiknya. Akhirnya, Universitas Diponegoro Program Studi Peternakan menjadi tempat untuk menyandarkan masa depannya.

Di balik keberhasilannya diterima di Universitas Diponegoro, terdapat proses belajar yang dilakukan secara disiplin dan konsisten. Taqiyya memiliki kebiasaan yang sederhana tetapi efektif dalam mempersiapkan diri menghadapi berbagai seleksi akademik. Di sela-sela belajar pelajaran sekolah, ia rutin mengikuti tryout mata pelajaran minimal satu kali dalam seminggu untuk mengukur perkembangan kemampuannya.

Bagi Taqiyya, tryout bukan sekadar sarana untuk mengukur nilai. Kegiatan tersebut menjadi alat evaluasi yang membantunya mengenali kekuatan dan kelemahan diri. Setelah setiap tryout, ia selalu meluangkan waktu untuk menelaah kembali hasil yang diperoleh dan mempelajari materi yang masih belum dikuasai."Kalau hasil tryout belum sesuai harapan, saya tidak langsung berkecil hati. Justru dari situ saya bisa tahu bagian mana yang harus saya perbaiki," tutur Taqiyya.

Kebiasaan melakukan evaluasi inilah yang menjadi salah satu kunci keberhasilan Taqiyya. Ia tidak menganggap kesalahan sebagai kegagalan, melainkan sebagai kesempatan untuk belajar lebih baik. Sedikit demi sedikit, proses tersebut membantunya meningkatkan pemahaman dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan akademik.

Menurut Taqiyya, belajar secara konsisten jauh lebih penting daripada belajar dalam waktu yang sangat lama tetapi tidak terarah. Kemajuan, menurutnya, dibangun melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus. "Saya lebih fokus pada proses memperbaiki kesalahan daripada mengejar nilai sesaat. Karena dari kesalahan itulah saya bisa belajar," ujar Taqiyya.

Kebiasaan mengevaluasi diri tersebut perlahan membentuk pola pikir yang positif. Alih-alih terpaku pada hasil yang belum sempurna, Taqiyya memilih fokus pada apa yang masih bisa diperbaiki. Sikap inilah yang membantunya menjalani proses belajar dengan lebih tenang sekaligus terus berkembang dari waktu ke waktu.

Suatu saat setelah menyelesaikan pendidikan di Program Studi Peternakan, Taqiyya berharap dapat melanjutkan studi ke jenjang magister. Bahkan, ia memiliki keinginan untuk memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan di luar negeri agar dapat memperluas wawasan dan pengalaman akademiknya. "Saya ingin terus belajar dan melihat dunia yang lebih luas. Semoga suatu saat saya bisa mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu di luar negeri. Itu salah satu target saya," ungkap Taqiyya.

Bagi Taqiyya, diterima di perguruan tinggi bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari perjalanan baru untuk terus belajar. Semangat tersebut sejalan dengan keyakinannya bahwa pengalaman adalah guru terbaik yang akan membentuk seseorang menjadi pribadi yang lebih matang dan berwawasan luas.

Di tengah kesibukan belajar, Taqiyya tetap menyediakan waktu untuk melakukan hal yang disukainya, yaitu membaca novel. Melalui berbagai kisah yang dibacanya, ia belajar memahami beragam karakter, sudut pandang, dan pengalaman hidup. Hobi tersebut tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga membantu memperluas wawasan dan melatih kemampuan berpikir kritis. "Saya suka membaca novel karena dari setiap cerita selalu ada pelajaran baru yang bisa diambil. Kadang kita juga jadi belajar memahami cara pandang orang lain," kata Taqiyya.

Perjalanan Taqiyya Aqila Aliyyanda menunjukkan bahwa masa depan tidak selalu ditemukan melalui jalan yang telah direncanakan sejak lama. Terkadang, masa depan hadir melalui keberanian untuk mengenal hal-hal baru, mencari informasi lebih dalam, dan memberi kesempatan pada diri sendiri untuk bertumbuh. Untuk itu, Taqiyya menitipkan pesan sederhana namun penuh makna untuk adik-adik kelasnya di MAN 1 Yogyakarta, "Jangan takut mencoba hal-hal yang belum pernah kita kenal. Kadang justru dari situlah kita menemukan bidang yang benar-benar cocok untuk masa depan kita."

Penulis: Lilis Ummi Fa'iezah, S.Pd., M.A (Guru MAN 1 Yogyakarta)


Bagikan Artikel :


Berita Yang Lain

Rasa Penasaran Perjalankan Taqiyya, Murid MAN 1 Yogyakarta ke Peternakan UNDIP
12 Jun 2026, 10:55

Bicara Etika di Era Digital, Murid MAN PK MAN 1 Yogyakarta Raih Juara 1 Orasi UMY
12 Jun 2026, 09:10

MAN 1 Yogyakarta Gandeng Orang Tua Siapkan Generasi Muslim Berwawasan Global
12 Jun 2026, 07:11

MAN 1 Yogyakarta Terima Pendampingan Balai Bahasa DIY
11 Jun 2026, 07:35

Curi Start, Jurus Rahasia Rafif MAN 1 Yogyakarta Taklukkan SNBT
11 Jun 2026, 07:34

Translate this website: