Perjalanan Ghaisan MAN 1 Yogyakarta Menjadi Mahasiswa Kedokteran Universitas Brawijaya

22 Jun 2026, 13:31 MAN 1 Yogyakarta 70

this used to be photo

Di ruang kelas XII E MAN 1 Yogyakarta, nama Hyudan Muhammad Ghaisan Ayyasi mungkin tidak langsung mencuri perhatian. Ia dikenal sebagai sosok yang ceria dan aktif, namun tidak banyak yang bicara tentang dirinya. Di balik kesehariannya yang tampak biasa, Ghaisan menyimpan perjalanan panjang menuju salah satu jurusan paling ketat persaingannya di Indonesia: Kedokteran Universitas Brawijaya.

Sejak kecil, dunia kesehatan bukan hal yang asing bagi Ghaisan. Ia tumbuh di lingkungan yang dekat dengan profesi dokter karena sang ibunda berprofesi sebagai dokter, namun titik yang benar-benar menguatkan mimpinya datang saat ia duduk di bangku kelas 6 SD. Saat itu ia berhasil meraih juara dokter kecil tingkat kota. Momen sederhana tersebut justru menjadi titik awal arah hidupnya, membuat cita-cita menjadi dokter tidak lagi sekadar keinginan masa kecil, melainkan tujuan yang mulai ia bangun secara serius.

Namun perjalanan menuju SNBT tidak selalu berjalan lurus. Ada masa ketika ia merasa belum menemukan pola belajar yang tepat. Ia mengakui pernah berada di fase ragu, terutama saat merasa stuck dengan progres belajar yang tidak sesuai harapan. Keraguan itu semakin terasa ketika ia melihat teman-temannya mulai mencapai skor tryout yang diinginkan, bahkan sebagian sudah lebih dulu diterima di perguruan tinggi melalui jalur lain. Di titik itu, ia sempat merasa tertinggal dalam persaingan yang semakin cepat.

Meski begitu, Ghaisan tidak pernah benar-benar jatuh pada titik menyerah. Ia justru banyak terbantu oleh lingkungan keluarga dan teman yang membuatnya merasa tidak berjuang sendirian. Tekanan yang ia rasakan lebih banyak bersifat internal, terutama pada subtes UTBK yang menuntut konsistensi dan ketahanan berpikir.

Seiring waktu, ia mulai menemukan ritme belajarnya sendiri. Ia lebih nyaman belajar secara mandiri karena merasa bisa lebih fokus tanpa distraksi. Dari situ ia membangun kebiasaan belajar yang lebih terarah, membiasakan diri fokus dalam waktu lama, serta menyicil materi jauh sebelum tenggat waktu. Di saat yang sama, ia tetap menjaga keseimbangan dengan olahraga sebagai cara untuk melepas penat dan menghindari kejenuhan.

Ghaisan juga termasuk tipe yang disiplin pada hal-hal yang ia sukai. Ia tidak menunda materi yang menurutnya penting, dan berusaha menyelesaikannya lebih awal. Untuk materi hafalan, ia menggunakan metode blurt, yaitu membaca seluruh materi kemudian menuliskannya kembali tanpa melihat sumber. Sementara untuk mata pelajaran yang menantang seperti matematika, ia memilih belajar bersama teman yang ia anggap lebih kuat di bidang tersebut, sehingga ia bisa memahami konsep dari sudut pandang yang berbeda.

Di luar strategi belajar, ada hal lain yang menurutnya berperan besar dalam prosesnya, yaitu kedekatan dengan Tuhan dan upaya menjaga pola pikir positif. Ia rutin menjalankan ibadah sunnah dan berusaha menjaga mental tetap stabil di tengah tekanan belajar. Baginya, perjuangan SNBT bukan hanya soal kemampuan akademik, tetapi juga soal ketahanan diri.

Menariknya, Ghaisan mengaku tidak pernah mengalami titik jatuh yang benar-benar membuatnya ingin berhenti. Meski ada tekanan dan rasa lelah, ia selalu merasa masih memiliki pegangan dari orang-orang di sekitarnya. Bahkan olahraga menjadi salah satu cara penting baginya untuk menjaga keseimbangan agar tidak mengalami burnout.

Kini, langkahnya telah membawanya diterima di Kedokteran Universitas Brawijaya. Namun bagi Ghaisan, ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab baru. Ia ingin menjadi dokter yang tidak hanya kompeten, tetapi juga rendah hati dan mampu membawa suasana yang hangat bagi orang-orang di sekitarnya, bahkan sesederhana menjadi dokter yang humoris.

Jika ia diminta melihat kembali dirinya satu tahun ke belakang, pesan yang ingin ia sampaikan sederhana namun tegas. “Tanpa usaha, tidak ada hasil yang datang secara ajaib.” Sebuah kalimat yang merangkum seluruh perjalanan Ghaisan, perjalanan yang tidak dibangun dari momen spektakuler, tetapi dari konsistensi yang terus dijaga dalam diam.

Penulis: Deti Prasetyaningrum, S.Pd, (Guru MAN 1 Yogyakarta)


Bagikan Artikel :


Berita Yang Lain

MAN 4 Bantul Studi Tiru OSIS ke MAN 1 Yogyakarta, Perkuat Kolaborasi dan Kepemimpinan Madrasah
24 Jun 2026, 05:50

Dari Jalur Tahfidz ke Antropologi UB: Izyan Keano, Sang “Kompas Budaya” MAN 1 Yogyakarta
24 Jun 2026, 05:46

Suci Ambar Wati Guru MAN 1 Yogyakarta Lolos Fully Funded IYEN National Young Leaders 2026
24 Jun 2026, 05:44

Perjalanan Ghaisan MAN 1 Yogyakarta Menjadi Mahasiswa Kedokteran Universitas Brawijaya
22 Jun 2026, 13:31

Murid MAN 1 Yogyakarta Raih Top 6 dan Juara Favorit Putri Duta GenRe DIY 2026
22 Jun 2026, 07:19

Translate this website: