“Kenapa tadi aku ngomong gitu, ya?”
“Dia balas chat singkat banget. Salahku apa?”
“Kalau aku gagal, gimana nanti?”
Bagi banyak murid MA/ SMA, pikiran seperti itu terasa akrab. Istilah populernya “overthinking”. Ia sering dituduh sebagai sumber cemas, sulit tidur, hingga rasa tidak percaya diri. Tapi, benarkah overthinking selalu musuh?
Masa remaja adalah fase penuh tuntutan. Nilai akademik, pergaulan, citra di media sosial, hingga pilihan jurusan kuliah kerap terasa seperti tekanan yang datang bersamaan. Wajar jika pikiran bekerja lebih keras dari biasanya. Kita memikirkan ulang ucapan, keputusan, bahkan ekspresi teman. Kita takut salah. Kita takut mengecewakan. Kita takut tidak cukup baik.
Dalam psikologi, kecenderungan memikirkan sesuatu secara berulang disebut rumination. Para pakar menjelaskan, berpikir mendalam sebenarnya bukan hal negatif. Ia membantu seseorang mengevaluasi diri dan belajar dari pengalaman. Artinya, berpikir berulang bisa menjadi tanda bahwa kita peduli pada relasi, pada tanggung jawab, dan pada masa depan.
Namun, masalah muncul ketika pikiran itu tidak lagi menghasilkan solusi, melainkan hanya memperbesar ketakutan. Ketika kita terus mengulang skenario terburuk tanpa bertindak, overthinking berubah dari refleksi menjadi jebakan.
Psikolog menyarankan beberapa langkah sederhana. Pertama, membedakan antara fakta dan asumsi. Tidak semua yang kita takutkan benar-benar terjadi. Kedua, membatasi waktu untuk berpikir, misalnya memberi diri sendiri 10–15 menit untuk merenung, lalu kembali fokus pada tindakan. Ketiga, menuliskan kekhawatiran di kertas agar pikiran terasa lebih terstruktur. Teknik mindfulness dan latihan pernapasan juga terbukti membantu menenangkan sistem saraf ketika cemas muncul.
Pada akhirnya, overthinking bukan sesuatu yang harus dimusnahkan, melainkan dikelola. Ia bisa menjadi tanda kepedulian, asalkan tidak mengambil alih kendali. Remaja tidak perlu berhenti peduli. Yang perlu dipelajari adalah bagaimana tetap berpikir jernih tanpa kehilangan keberanian untuk bertindak.
Ditulis oleh: Deti Prasetyaningrum, S.Pd (Guru MAN 1 Yogyakarta)