Menghidupkan Imajinasi: Murid Kelas X MAN 1 Yogyakarta Beraksi Lewat Fractured Stories

07 Apr 2026, 07:12 MAN 1 Yogyakarta 51

this used to be photo

Suasana pembelajaran Bahasa Inggris di kelas X A tampak lebih hidup dan ekspresif, Senin (06/04/2026). Murid-murid tidak hanya membaca dan menulis cerita, tetapi juga memvisualisasikannya melalui pementasan drama di kelas. Melalui pembelajaran fractured stories, murid diajak untuk ‘membongkar’ cerita tradisional dengan menulis ulang versinya sendiri, lalu menampilkannya dalam bentuk pertunjukan sederhana yang penuh kreativitas.

Fractured stories merupakan teknik pembelajaran yang mengajak murid mengubah cerita yang sudah ada, baik dari segi alur, sudut pandang, karakter, maupun ending, menjadi versi baru yang lebih kreatif dan sesuai eranya. Keunikan dari pembelajaran bertema fractured stories terletak pada tahap akhirnya, yaitu pementasan drama. Murid tidak hanya berhenti pada proses menulis, tetapi juga menghidupkan cerita menurut versi mereka melalui dialog, ekspresi, dan kerja sama tim yang dikemas dalam pementasan drama.

Menurut guru bahasa Inggris Lilis Ummi Fa’iezah, pembelajaran ini bertujuan tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan menulis dalam Bahasa Inggris dengan membuat skenario drama, tetapi juga mengembangkan keterampilan berbicara (speaking), kepercayaan diri, serta kemampuan kolaborasi murid.  “Dengan bermain peran, murid-murid juga belajar memahami karakter dan emosi dalam cerita secara lebih mendalam melalui peran yang mereka mainkan,” terang Lilis.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan diawali dengan murid kelas X A dibagi menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 6 orang. Mereka diminta untuk membaca atau menonton cerita yang sudah familiar. Setelah itu, murid mendiskusikan unsur-unsur cerita seperti tokoh, alur, konflik, dan latar. Selanjutnya, mereka menentukan bagian cerita yang akan diubah dan mulai menulis versi baru secara berkelompok.

Tahap berikutnya adalah mengadaptasi cerita tersebut menjadi naskah drama sederhana. Murid kemudian berlatih peran, membagi karakter, dan menyiapkan pementasan di kelas. Pada tahap puncak, setiap kelompok menampilkan hasil karyanya di depan teman-teman, sehingga tercipta suasana belajar yang interaktif, kreatif, dan menyenangkan.

Beberapa kelompok bahkan menampilkan ide-ide unik, seperti ‘Snow White: the Final Battle’ yang mengubah cerita asli Snow White dengan memasukkan unsur digital di dalamnya. Kelompok lain membawakan cerita ‘ the Timun Jaya (The Giant’s truth) dengan sudut pandang berbeda dari tokoh utama. Kreativitas murid terlihat dari dialog, improvisasi, hingga ekspresi yang mereka tampilkan di atas ‘panggung’ kelas.

Afifah, salah satu murid kelas XA berperan sebagai Snow White jaman modern yang bermedia sosial dan mempunyai banyak follower. Afifah mengungkapkan antusiasmenya, “Belajar seperti ini lebih seru karena kami tidak hanya menulis, tetapi juga bisa tampil dan berperan langsung dalam cerita yang kami buat.”

Melalui pembelajaran ini, Bahasa Inggris tidak hanya dipelajari sebagai mata pelajaran, tetapi juga sebagai sarana berekspresi dan berkreasi. Pembelajaran fractured stories menjadi jembatan yang menghubungkan kemampuan literasi dengan keterampilan komunikasi nyata. (luf)


Bagikan Artikel :


Berita Yang Lain

Lulusan MAN 1 Yogyakarta Ini Mantap Pilih D4 Pariwisata UGM Lewat SNBP
07 Apr 2026, 07:14

Menghidupkan Imajinasi: Murid Kelas X MAN 1 Yogyakarta Beraksi Lewat Fractured Stories
07 Apr 2026, 07:12

Eratkan Silaturahmi, BPH OSIS Nurul Jadid MAN 1 Yogyakarta Gelar Syawalan 1447 H
06 Apr 2026, 18:56

Lewat Hapkido, Orell Harumkan Nama MAN 1 Yogyakarta di POPDA DIY 2026
06 Apr 2026, 13:46

Bangun Karakter Pasca Ramadan, MAN 1 Yogyakarta Gelar Kajian Reflektif
06 Apr 2026, 13:43

Translate this website: