Zaid adalah seorang anak kecil yang dulu pernah tersesat dan akhirnya dijual oleh orang-orang jahat. Tapi, Allah menakdirkan Zaid bertemu dengan orang yang sangat baik: Nabi Muhammad ﷺ. Rasulullah membeli Zaid lalu membebaskannya, dan bahkan menjadikannya anak angkat.
Zaid tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan pemberani. Ia sering menemani Rasulullah dalam berbagai perjalanan dan pertempuran. Keberaniannya membuatnya dipercaya oleh Rasulullah untuk memimpin pasukan dalam beberapa kesempatan.
Suatu hari, Zaid memimpin pasukan Muslim dalam pertempuran melawan musuh. Meskipun menghadapi tantangan besar, Zaid tetap teguh dan berani. Sayangnya, dalam pertempuran tersebut, Zaid gugur sebagai syahid. Rasulullah sangat sedih kehilangan Zaid, sahabat dan anak angkat yang sangat dicintainya.
Melalui kisah ini, kita dapat mengambil hikmah bahwasannya sebagai umat baginda Rasulullah saw haruslah menjadi pribadi yang setia kepada seorang pemimpin. Sifat ini tidak hanya diperlihatkan kepada orang yang dekat dengan kita, tetapi orang lain turut berhak atas kesetiaan yang kita beri.
Sebelum sampai pada titik setia, bukankah semua diawali dengan rasa cinta dan peduli? Maka dari itu, untuk mencapai tingkat kesetiaan, awalilah dengan menebar kebaikan kepada orang lain. Dengan kebaikan yang diberikan perlahan akan menciptakan rasa cinta dan kepedulian kepada orang lain sebagaimana yang terjadi pada Zaid bin Haritsah dengan baginda Rasulullah saw.
Kisah yang hadir bukan hanya sebatas dongeng isapan jempol belaka, tetapi menjadi salah satu cara kita untuk meningkatkan keimanan dan kesadaran akan hadirnya Tuhan kita, Allah Swt. Maka dari itu, marilah kita untuk selalu mengambil hikmah dari setiap kisah yang hadir. (aik)