Ketika Puncak Itu Bernama ITS, Kisah Syauqi MAN 1 Yogyakarta

11 Jun 2026, 07:31 MAN 1 Yogyakarta 60

this used to be photo

Tidak ada pendaki yang benar-benar tahu apakah ia akan sampai di puncak. Yang bisa dilakukan hanyalah terus melangkah. Satu langkah. Lalu satu langkah berikutnya.

Barangkali itulah cara terbaik untuk menggambarkan perjalanan Syauqi Shofwan, murid kelas XII G MAN 1 Yogyakarta yang berhasil diterima di Program Studi Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui jalur SNBT 2026.

Jika seluruh proses itu dijadikan sebuah film, Syauqi membayangkannya seperti pembuka film Interstellar. Sebuah kisah tentang seseorang yang berhadapan dengan mimpi yang begitu besar hingga tampak hampir mustahil untuk diraih. Namun seperti halnya para tokoh dalam film tersebut, mimpi besar selalu menuntut keberanian untuk terus bergerak meski hasil akhirnya belum terlihat.

Perjalanan menuju ITS bukanlah jalan yang lurus dan nyaman. Ada masa-masa ketika Syauqi merasa tertinggal dari teman-temannya sendiri.

Momen yang paling berat baginya bukan saat menghadapi UTBK, melainkan ketika melihat hasil tryout teman-teman yang sudah stabil dan berada di zona aman untuk kampus impian mereka. Sementara itu, skor tryout miliknya masih naik turun. Kadang berada di atas target, tetapi tidak jarang kembali turun di bawah batas aman.

Perbandingan itu sempat menghadirkan kegelisahan.

Dari banyak tryout yang ia ikuti, hanya sekitar 30 persen yang menunjukkan peluang lolos sesuai target. Selebihnya membuatnya harus berhadapan dengan kemungkinan yang tidak ingin dipikirkan oleh siapa pun: gagal.

Meski demikian, satu hal tidak pernah benar-benar hilang dari dirinya, yaitu keyakinan. Syauqi percaya bahwa cara seseorang berpikir akan memengaruhi cara ia bertindak. Karena itulah, ia berusaha menjaga pikirannya tetap positif bahkan ketika keadaan belum sepenuhnya berpihak. "Aku selalu mencoba untuk optimis," ujarnya.

Optimisme itu bukan berarti perjalanan menjadi mudah. Ada hari-hari ketika rasa putus asa datang tanpa diundang. Salah satu yang paling ia ingat adalah saat berhadapan dengan soal Penalaran Matematika. Berulang kali ia mencoba menemukan jawaban, tetapi hasilnya tidak kunjung didapatkan.

Rasa frustrasi muncul. Namun ia memilih tetap mengerjakan soal sebisanya dan melanjutkan proses belajar yang harus dijalani. Bagi Syauqi, perjuangan menuju perguruan tinggi impian tidak hanya soal kecerdasan, tetapi juga soal ketahanan. Ketahanan untuk terus belajar ketika lelah. Ketahanan untuk tetap mencoba ketika hasil belum sesuai harapan. Dan ketahanan untuk bangun keesokan harinya lalu mengulangi proses yang sama.

Perubahan terbesar dalam hidupnya terjadi selama kelas XII. Jika sebelumnya belajar hanya dilakukan menjelang ujian sekolah, kini hampir setiap hari diisi dengan latihan soal, evaluasi, dan persiapan UTBK. Rutinitas itu membawa konsekuensi yang tidak kecil.

Jam tidur menjadi salah satu pengorbanan terbesar yang harus dilakukan. Tidak jarang Syauqi baru beristirahat pukul satu atau dua dini hari. Tubuhnya beberapa kali mengalami penurunan kondisi karena kurang istirahat. Namun ia memilih bertahan. Ia percaya bahwa setiap perjuangan selalu meminta harga yang harus dibayar.

Di balik seluruh proses tersebut, ada sosok yang selalu menjadi sumber kekuatan terbesar: kedua orang tuanya. Bagi Syauqi, keberhasilannya hari ini tidak bisa dilepaskan dari doa, dukungan, dan keridaan orang tua yang tidak pernah berhenti mengiringi langkahnya. Mereka memberikan kebebasan penuh untuk menentukan jurusan sesuai minat dan cita-cita yang ingin diperjuangkan. Kebebasan itu justru membuat Syauqi merasa memiliki tanggung jawab yang lebih besar terhadap pilihannya sendiri.

Ada pula satu kalimat yang hingga kini masih diingatnya dari wali kelasnya, Pak Ardhi. "Kamu harus serius belajarnya biar lolos UTBK lho, nanti kalo tidak lolos, saya malu sama bapakmu soalnya senior saya di MGMP." Kalimat sederhana itu mungkin terdengar seperti sebuah candaan dan nasihat biasa. Namun bagi Syauqi, kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak boleh dijalani setengah hati.

Ketertarikannya pada Teknik Industri sendiri berangkat dari kecintaannya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan manajemen dan pengelolaan sistem. Ia melihat Teknik Industri bukan sekadar tentang pabrik seperti yang sering dipahami banyak orang. Baginya, Teknik Industri adalah tentang bagaimana membuat sebuah sistem bekerja lebih efisien, bagaimana mengelola proses produksi dan logistik dengan baik, serta bagaimana manusia dan teknologi dapat saling terintegrasi untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Dunia yang penuh dengan perencanaan dan pengambilan keputusan itu terasa sangat dekat dengan dirinya.

Kini, setelah berhasil menembus gerbang ITS, Syauqi memandang seluruh proses yang telah dilaluinya dengan cara yang berbeda. Jika harus merangkum perjalanan tersebut dalam satu kalimat, ia memilih sebuah perumpamaan yang sederhana.
“Perjalanan menuju Teknik Industri ITS seperti mendaki Gunung Merbabu.”
Melelahkan. Membuat putus asa. Kadang membuat seseorang bertanya mengapa ia memulai perjalanan itu sejak awal. Tetapi ketika akhirnya sampai di puncak, semua rasa lelah itu terasa sepadan dengan pemandangan yang terbentang di depan mata.

Dan seperti para pendaki yang berhasil mencapai tujuan, Syauqi kini memahami satu hal penting: pemandangan terbaik sering kali hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memilih untuk tidak berhenti melangkah.

Penulis: Deti Prasetyaningrum, S.Pd (Guru MAN 1 Yogyakarta)


Bagikan Artikel :


Berita Yang Lain

Diburu Ribuan Pendaftar, MAN 1 Yogyakarta Hanya Buka 282 Kursi PMB 2026/2027
03 Jul 2026, 07:12

Ketat! 578 Pendaftar Berebut 34 Kursi PMB Gelombang 2 MAN 1 Yogyakarta
03 Jul 2026, 07:06

Belajar dengan Hati: Cara ‘Nyeleneh’ Faishal MAN 1 Yogyakarta Temukan Jalan di Dunia Bahasa
03 Jul 2026, 07:04

Idealis pada Jurusan Impian, Realistis Memilih Kampus: Perjalanan Rifo, Murid MAN 1 Yogyakarta, Menggapai UPI
02 Jul 2026, 07:08

Saat Kemalasan Dikalahkan oleh Mimpi: Kisah Azrha, Murid MAN 1 Yogyakarta, Menuju Statistika UNY
02 Jul 2026, 07:07

Translate this website: