Kemenag Bentuk Peer Educator Remaja, Delapan Murid MAN 1 Yogyakarta Ikut Cegah Perkawinan Anak

21 Aug 2026, 16:22 MAN 1 Yogyakarta 82

this used to be photo

 

Jakarta (MAN 1 Yogyakarta) — Delapan murid Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Yogyakarta mengikuti kegiatan Peer Educator Bimbingan Remaja yang diselenggarakan Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, pada 19–21 Agustus 2026 di Menara Peninsula Hotel, Jakarta Barat.

Kegiatan ini menjadi bagian dari program penguatan karakter Islami remaja sekaligus upaya meningkatkan ketahanan keluarga dan mencegah praktik perkawinan anak melalui pendekatan edukasi sebaya.

Selain dari DIY, kegiatan tersebut diikuti oleh 80 murid dari berbagai daerah, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Delegasi DIY terdiri atas delapan murid, satu guru pendamping, dan satu penyuluh agama Islam.

Delapan murid MAN 1 Yogyakarta yang menjadi peserta kegiatan tersebut adalah Nasya Princessa Kahla (XI F), Empu Esa Sasikirana (X A), Shifwah Isytiyaq Tsabita (X PK 2), Nafeeza Berlianisita Flosavian (X G), Aryasatya Rasyid Pratomo (X G), Zavier Ramadhana Rusandri (X D), Muhammad Faris El-Firdausi (X PK 1), dan Muhammad Irhab Arfa Rahman (X A), dengan pendamping Muhammad Amin, S.Ag., M.A.

Kegiatan dibuka oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Abu Rokhmad, M.Ag. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya keterlibatan remaja dalam menyampaikan edukasi kepada teman sebaya.
“Program Peer Educator ini hadir karena kami di Kementerian Agama meyakini satu hal penting, bahwa suara sebaya sesungguhnya lebih mudah didengar oleh sebaya,” ujar Abu Rokhmad saat membuka kegiatan, Rabu (19/8/2026).

Menurut Abu Rokhmad, pendekatan sebaya memungkinkan pesan-pesan penting mengenai kehidupan remaja dapat diterima dengan lebih mudah karena disampaikan menggunakan bahasa yang dekat dengan keseharian mereka.

Para peserta tidak hanya diberikan pemahaman mengenai risiko dan dampak perkawinan anak, tetapi juga dibekali materi tentang kesehatan reproduksi, hak-hak anak, keterampilan komunikasi, serta konseling sebaya.

Ia meminta para peserta agar mampu menjadi teman yang hadir ketika remaja lain menghadapi persoalan atau tekanan dalam kehidupannya.
“Jadilah pendengar yang baik bagi teman-teman kalian. Jadilah sahabat yang hadir ketika ada teman yang mulai ragu, mulai tertekan oleh keadaan, atau bahkan mulai dijodohkan dan diarahkan untuk menikah di usia yang belum semestinya,” katanya.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai metode pembelajaran seperti diskusi, pembelajaran kooperatif, praktik, dan sosio drama dengan menampilkan karakter khas daerah masing-masing.

Melalui kegiatan tersebut, Kementerian Agama berharap para Peer Educator dapat menjadi penggerak perubahan di sekolah maupun komunitas remaja dalam menyebarkan pesan pencegahan perkawinan anak, kesehatan reproduksi, serta pembangunan masa depan remaja yang lebih baik. (dee)


Bagikan Artikel :


Berita Yang Lain

MAN 1 Yogyakarta Gelar Gerakan Aksi Bergizi, Dorong Remaja Hidup Sehat dan Bebas Anemia
02 Oct 2026, 14:42

Merayakan Kota dengan Budaya, MAN 1 Yogyakarta Semarakkan Karnaval Pelajar HUT ke-270
02 Oct 2026, 14:29

MAN 1 Yogyakarta Gelar Upacara Hari Kesaktian Pancasila, Teguhkan Semangat Kebersamaan
02 Oct 2026, 14:13

165 Talenta Madrasah Adu Nalar di OMI Tingkat Provinsi DIY 2026
02 Oct 2026, 13:01

MAN 1 Yogyakarta Jadi Tuan Rumah OMI-PKM DIY 2026, Madrasah Didorong Tak Sekadar Jadi Penonton
02 Oct 2026, 12:19

Translate this website: