Langkah itu tak selalu lurus. Kadang ia berbelok, menyusuri jalan yang tak semula direncanakan. Namun, bagi Mumtaz Ahmad Fathi, murid kelas XII PK 1 MAN 1 Yogyakarta, justru di situlah makna ikhtiar menemukan bentuknya.
Ia dinyatakan lolos melalui jalur SPAN-PTKIN di UIN Sunan Kalijaga, pada program studi Bahasa dan Sastra Arab, sebuah pilihan yang tak hanya berangkat dari minat, tetapi juga kesadaran akan arah masa depan.
“Kesempatan kuliah itu bisa datang dari jalur yang tidak diduga,” ujarnya tenang. Baginya, terlalu menggantungkan harapan pada satu pintu justru bisa membatasi peluang. Ia memilih membuka banyak kemungkinan, sambil tetap berpegang pada prinsip: manusia berusaha, hasil adalah ketetapan Tuhan.
Keputusan memilih jalur SPAN-PTKIN bukan tanpa alasan. Jalur ini, menurutnya, menjadi ruang bagi murid madrasah untuk melanjutkan minat keilmuan keagamaan, baik yang bersifat teoritis seperti tafsir dan hadis, maupun yang aplikatif seperti hukum keluarga Islam dan bahasa Arab.
Bahasa Arab sendiri bukan hal asing bagi Mumtaz. Ketertarikan itu tumbuh seiring proses belajar yang ia jalani selama di madrasah. “Saya merasa punya minat dan kemampuan di sana, jadi lebih mudah untuk berkembang,” katanya. Pilihan itu bukan sekadar mengikuti arus, melainkan hasil perenungan yang matang.
Meski sempat dinyatakan sebagai murid eligible dan mendapat kesempatan mengikuti SNBP, Mumtaz tak lantas berhenti pada satu jalur. Ia menyadari bahwa perjalanan menuju bangku kuliah adalah proses mencari peluang, bukan sekadar menunggu hasil. Karena itu, SPAN-PTKIN tetap ia jalani dengan kesungguhan yang sama.
Persiapan yang ia lakukan pun terbilang teknis namun krusial. Mulai dari memastikan nilai rapor terinput dengan benar, hingga melengkapi dokumen seperti sertifikat prestasi dan pas foto sesuai ketentuan. Hal-hal kecil, menurutnya, bisa menjadi penentu di tahap seleksi administratif.
Namun, tantangan terbesar justru bukan pada berkas, melainkan pada pilihan jurusan. Ia menyebut fase ini sebagai titik krusial yang menentukan arah hidup beberapa tahun ke depan. Riset mendalam menjadi kunci tentang mata kuliah, fokus keilmuan, hingga prospek kerja.
Dalam proses itu, peran keluarga dan lingkungan terasa signifikan. Orang tua mendorongnya untuk tidak gegabah dalam memilih, sementara kakak tingkat yang lebih dulu lolos SPAN-PTKIN memberi gambaran nyata tentang dunia perkuliahan di jalur tersebut.
Di balik pencapaian itu, ada satu titik balik yang ia sadari. Bahwa masa depan tak melulu tentang masuk perguruan tinggi negeri impian, tetapi bagaimana memaksimalkan apa yang sudah dimiliki. Program keagamaan yang ia tekuni, misalnya, menjadi pijakan logis menuju kampus berbasis keislaman.
Bagi adik kelasnya, Mumtaz berpesan sederhana namun dalam: mulai lebih awal. Mengenali minat, menelusuri informasi jalur masuk, hingga menyiapkan dokumen sejak dini. Ia juga mengingatkan agar tidak terjebak dalam perbandingan dengan pencapaian orang lain.
“Setiap orang punya masa dan rezekinya masing-masing,” tuturnya.
Di tengah derasnya arus kompetisi, kisah Mumtaz mengingatkan bahwa keberhasilan bukan semata soal siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang paling siap menjemput peluang dari pintu mana pun ia datang. (dee)