Di Antara Anak dan Orang Tua, Tentang Hal yang tak Dipilih

13 Mar 2026, 09:05 MAN 1 Yogyakarta 184

this used to be photo

Tidak semua hal dalam kehidupan merupakan hasil dari keputusan yang kita buat sendiri. Seseorang lahir, tumbuh, dan berkembang dalam kondisi yang telah lebih dulu ada sebelum ia mampu memahaminya. Keluarga, lingkungan, serta berbagai pengalaman yang membentuk masa kecil sering kali bukan sesuatu yang dapat dipilih. Di sisi lain, menjadi orang tua pun bukan peran yang selalu dipersiapkan dengan sempurna. Banyak yang hanya berusaha menjalankannya sebaik yang mereka bisa, di tengah keterbatasan dan tekanan hidup yang tidak ringan.

Ada fase ketika seorang anak merasa terbebani. Perasaan lelah, kecewa, bahkan marah bisa tumbuh diam-diam. Kadang muncul pikiran bahwa hidup ini datang tanpa pernah diminta. Ketika kebutuhan emosional terasa tidak terpenuhi atau keadaan terasa tidak adil, wajar jika hati mempertanyakan banyak hal dan menyalahkan keadaan terasa seperti cara paling mudah untuk memahami kegelisahan yang sedang tumbuh di dalam diri.

Namun di balik itu, ada sisi lain yang sering luput terlihat. Orang tua mungkin tidak selalu pandai menunjukkan kasih sayang dengan cara yang diharapkan: ada yang canggung, ada yang keras, ada yang lebih banyak diam daripada menjelaskan. Tetapi banyak dari mereka menjalani hari-harinya dengan satu hal yang terus dipikirkan, yaitu memastikan anaknya tetap hidup, tetap makan, tetap sekolah, tetap punya masa depan. Mereka memikirkan biaya, kebutuhan, dan tanggung jawab yang tidak pernah benar-benar berhenti. Ada lelah yang jarang diucapkan, ada kekhawatiran yang dipendam sendiri.

Menghidupi bukan sekadar memberi uang atau memenuhi kebutuhan materi, melainkan tentang bertahan agar keluarga tetap berjalan. Tentang bekerja meski badan lelah, tentang menahan keinginan pribadi demi kebutuhan rumah, tentang terus mencari cara agar anak tidak merasakan kekurangan yang sama seperti yang pernah mereka rasakan. Usaha itu mungkin tidak selalu terlihat sebagai kasih sayang, tetapi sering kali itulah bentuk cinta yang paling nyata bagi mereka.

Perasaan anak yang kecewa atau terluka tetaplah nyata dan tidak boleh dianggap berlebihan. Merasa lelah bukan berarti tidak tahu berterima kasih. Di saat yang sama, orang tua pun sedang menjalani hidup untuk pertama kalinya, sama seperti anak-anak mereka. Mereka juga tidak pernah punya pengalaman menjadi orang tua sebelumnya, tidak pernah diberi buku panduan yang sempurna. Dalam satu keluarga, sebenarnya ada dua pihak yang sama-sama sedang belajar menjalani peran, sama-sama berproses memahami hidup yang baru sekali ini mereka jalani.

Pada akhirnya, baik anak maupun orang tua menjalani peran yang tidak sepenuhnya mereka pilih. Di antara ketidaksempurnaan itu, ada tanggung jawab, ada usaha, dan ada cinta yang mungkin tidak selalu diungkapkan dengan kata-kata, tetapi tetap hadir dalam bentuk kerja keras yang tak pernah benar-benar berhenti.

Penulis: Chelsea Olivia, XB


Bagikan Artikel :


Berita Yang Lain

MAN 1 Yogyakarta Gelar Gerakan Aksi Bergizi, Dorong Remaja Hidup Sehat dan Bebas Anemia
02 Oct 2026, 14:42

Merayakan Kota dengan Budaya, MAN 1 Yogyakarta Semarakkan Karnaval Pelajar HUT ke-270
02 Oct 2026, 14:29

MAN 1 Yogyakarta Gelar Upacara Hari Kesaktian Pancasila, Teguhkan Semangat Kebersamaan
02 Oct 2026, 14:13

165 Talenta Madrasah Adu Nalar di OMI Tingkat Provinsi DIY 2026
02 Oct 2026, 13:01

MAN 1 Yogyakarta Jadi Tuan Rumah OMI-PKM DIY 2026, Madrasah Didorong Tak Sekadar Jadi Penonton
02 Oct 2026, 12:19

Translate this website: