Tidak semua perjalanan menuju perguruan tinggi dimulai dengan kepastian. Sebagian justru berangkat dari kebingungan, dari pilihan yang berulang kali berubah, bahkan dari kegamangan yang sulit dijelaskan.
Di tengah dinamika itu, Naura Husna Kinanthi, murid kelas XII C MAN 1 Yogyakarta, menemukan jalannya. Ia menjadi satu dari 16 murid MAN 1 Yogyakarta yang berhasil lolos ke Universitas Gadjah Mada melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026, diterima di Program Studi Manajemen dan Kebijakan Publik (MKP).
Sejak awal hingga mendekati pendaftaran SNBP, Naura justru berada dalam fase pencarian yang panjang. Ia merasa tertarik pada banyak bidang sekaligus; hukum, psikologi, manajemen, hingga ilmu ekonomi. Arah yang ia tuju kerap berubah. Ia bertanya kepada banyak orang, mencari pertimbangan, tetapi tak kunjung menemukan jawaban yang benar-benar menenangkan.
“Saya sempat berkali-kali pindah pilihan. Dari hukum, ke psikologi, ke manajemen, lalu kembali lagi ke hukum. Rasanya belum ada yang benar-benar pas,” ujarnya.
Di titik itu, ia memilih berhenti sejenak dari keramaian pertimbangan. Ia mengambil jarak, lalu mendekat, bukan kepada pilihan, tetapi kepada keyakinan. Naura melakukan salat istikharah selama kurang lebih satu minggu. Dalam jeda yang tenang itu, ia mulai melihat kembali dirinya sendiri. Apa yang sebenarnya ia sukai, dan ke mana ia ingin melangkah.
Perlahan, satu benang merah mulai terlihat: ketertarikannya pada bidang yang bersinggungan dengan hukum, politik, dan manajemen. Dari sanalah ia mulai menelusuri pilihan yang mungkin belum pernah benar-benar ia pertimbangkan sebelumnya.
“Saat itu saya merasa, ini mungkin yang paling mendekati semua hal yang saya minati,” katanya.
Keyakinan itu kemudian diperkuat dengan langkah rasional. Naura melakukan analisis peluang di empat lembaga berbeda; dua secara daring melalui GoPTN dan Arah Cita, serta dua lainnya secara luring di Neutron dan Primagama. Hasilnya serupa: peluangnya diterima di MKP UGM berada di kisaran 60–70 persen.
Ia mencoba berbagai jurusan lain dalam simulasi tersebut, tetapi hasilnya tidak sekuat MKP.
“Dari situ sebenarnya saya sudah cukup yakin,” ujarnya.
Dalam proses seleksi, Naura juga menyertakan capaian akademiknya. Ia mengunggah sertifikat medali emas Olimpiade Sains Siswa Madrasah Nasional (OS2MN) bidang ekonomi, yang diraih secara beregu. Namun, baginya, persiapan tidak hanya berhenti pada dokumen.
Ia membangun keseimbangan antara usaha lahir dan batin. Selain melakukan rasionalisasi dan konsultasi dengan keluarga, ia juga memperbaiki ibadah, termasuk membiasakan diri menjalankan salat tahajud sejak selesai pendaftaran hingga menjelang pengumuman.
“Sejak kelas 10 saya memang ingin sekali lolos SNBP. Tapi saya juga sadar, manusia hanya bisa berusaha. Hasil akhirnya tetap kehendak Allah,” ujarnya.
Di sanalah, perjalanan Naura menemukan maknanya. Bahwa memilih bukan hanya soal logika, tetapi juga keberanian untuk mendengarkan diri sendiri dan mempercayai proses yang dijalani.
Kisah Naura mengingatkan bahwa tidak apa-apa untuk tidak segera tahu arah. Kadang, justru di persimpangan itulah seseorang belajar mengenali dirinya. Dan ketika jawaban itu datang, pelan tapi pasti, ia akan terasa jauh lebih berarti. (dee)