Pilihan jurusan bagi Alzena Nasywa Alyda Kaafi bukanlah keputusan yang datang begitu saja. Ada kegelisahan sederhana yang justru menjadi titik awal langkah besarnya, keinginan untuk memahami hukum dalam lingkup paling dekat, yaitu keluarga. Dari situlah, murid MAN 1 Yogyakarta ini mantap melangkah hingga akhirnya diterima di UIN Salatiga pada program studi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyyah).
Bagi Alzena, memilih jurusan bukan sekadar mengikuti tren atau saran orang lain, melainkan tentang mengenal lebih dalam bidang yang benar-benar ingin ia tekuni. “Saya memilih jurusan tersebut dikarenakan ingin mengetahui lebih dalam tentang hukum-hukum keluarga,” ungkap Alzena. Alzena menjelaskan bahwa urusan hukum keluarga Islam adalah bidang yang mempelajari seputar hukum. Ada dua segi hukum yang dipelajari yaitu hukum secara positif dan hukum Islam yang berlaku di Indonesia. Alzena menyukai pembelajaran hukum di jurusan hukum keluarga Islam karena ia akan mempelajari hukum seputar pernikahan, perceraian, dan kewarisan yang berlaku dalam Islam.
Perjalanannya menuju titik ini bagi Alzena tidak selalu mudah. Bukan karena ia tidak mampu memahami pelajaran, tetapi karena ada satu hal yang terus menguji konsistensinya dalam meraih cita-cita. Hari demi hari, ia harus melawan rasa lelah, jenuh, dan godaan untuk menunda. “Yang paling berat adalah menjaga konsistensi dalam belajar,” ujar Alzena jujur.
Untuk memperkuat persiapannya, Alzena memilih mengikuti bimbingan belajar secara offline. Namun lebih dari itu, ia belajar membangun ritme ‘datang, belajar, mengulang, dan bertahan’ yang kadang-kadang prosesnya tidak selalu menyenangkan. Tapi semua hambatan ia tepiskan demi cita-cita masa depan. Di saat-saat itulah, peran orang tua dan madrasah menjadi sangat berarti. Dukungan yang ia terima bukan hanya dalam bentuk fasilitas, tetapi juga kepercayaan. “Sejauh ini, dukungan dari keduanya sangat mendukung terhadap proses belajar saya sehingga saya optimis dalam meraih cita-cita,” tutur Alzena.
Kepala MAN 1 Yogyakarta Edi Triyanto, S. Ag., S. Pd. M. Pd., menilai bahwa langkah Alzena menunjukkan kematangan dalam menentukan masa depan. “Alzena tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki arah yang jelas. Ketekunan dan kesungguhannya adalah kunci utama keberhasilannya,” ungkap Edi. Edi juga yakin bahwa keberhasilan ini sebagai hasil dari kemampuan mengelola proses, bukan sekadar hasil akhir. “Banyak murid mampu, tetapi tidak semua mampu bertahan dalam proses. Alzena menunjukkan bahwa fokus dan konsistensi adalah faktor penentu,” jelas Edi lagi.
Kini, langkah Alzena telah sampai pada fase baru. Fase serius dalam mencari ilmu sebagai bekal untuk mengabdikan diri di masa mendatang. Alzena sadar bahwa bahwa kesuksesan harus diperjuangkan sehingga ia berpesan bagi teman-temannya yang masih berada di titik perjuangan untuk tidak patah semngat. “Teruslah bersemangat dalam belajar, raihlah ridho dari orang tua dan guru, dan selalu berbuat baik. Insha Allah segala hajat kalian dimudahkan!” kata Alzena bersemangat.
Kisah Alzena mengingatkan bahwa mimpi besar tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kadang, ia tumbuh dari pilihan sederhana, untuk tetap belajar, tetap bertahan, dan tidak menyerah pada diri sendiri, bahkan ketika perjalanan terasa tidak mudah. (luf)